Jakarta, IDN Times — Memasuki awal tahun 2026, kompleksitas kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) di era pemerintahan kedua Presiden Donald Trump semakin terlihat jelas. Bagi para importir AS, tarif Trump 2.0 kian rumit. Pasalnya, tumpukan aturan baru ini bukan hanya tentang biaya tambahan, tetapi juga lonjakan beban administrasi yang harus mereka hadapi setiap hari.
Gambaran paling nyata dari kerumitan tersebut tercermin dalam tariff book atau Harmonized Tariff Schedule of the United States. Dokumen utama yang menjadi rujukan pengenaan tarif impor ini kini membengkak, sementara Mahkamah Agung AS (SCOTUS) bersiap mengeluarkan putusan penting yang berpotensi mengubah sebagian besar kebijakan tarif Trump 2.0.
