Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Taylor Swift Ajukan Hak Merek Suara dan Foto untuk Antisipasi Deepfake AI
Taylor Swift (commons.m.wikimedia.org/Ronald Woan)
  • Taylor Swift resmi mengajukan tiga merek dagang ke USPTO untuk melindungi suara dan foto dirinya dari penyalahgunaan teknologi AI tanpa izin.
  • Langkah ini diambil setelah wajah dan suara Swift sering digunakan dalam konten AI palsu, termasuk iklan, dukungan politik, hingga gambar dewasa.
  • Ahli hukum menilai pendaftaran merek dagang ini sebagai pendekatan baru yang memberi perlindungan tambahan terhadap peniruan identitas artis di era AI.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Penyanyi pop Taylor Swift mengambil langkah hukum baru untuk melindungi identitasnya dari ancaman kecerdasan buatan (AI). Ia secara resmi mengajukan permohonan merek dagang untuk klip suara dan foto dirinya kepada pihak berwenang di Amerika Serikat (AS).

Pengajuan yang dilakukan pada Jumat (24/4/2026), bertujuan memberikan perlindungan lebih terhadap penyalahgunaan suara dan gambarnya. Langkah ini difokuskan untuk mencegah peredaran video dan audio palsu hasil buatan teknologi AI yang dilakukan tanpa izin.

1. Pengajuan tiga merek dagang ke kantor paten AS

Taylor Swift (instagram.com/taylorswift)

Melalui perusahaan pengelola hak kekayaan intelektualnya, TAS Rights Management, Swift menyerahkan tiga dokumen permohonan kepada U.S. Patent and Trademark Office (USPTO). Dua di antaranya adalah merek suara yang melindungi kalimat pendek sang penyanyi, sementara satu lagi adalah merek visual berupa foto panggung.

Permohonan merek suara tersebut berisi rekaman Swift yang mengatakan, "Hey, it’s Taylor Swift, and you can listen to my new album, 'The Life of a Showgirl,' on demand on Amazon Music Unlimited." Dokumen kedua berisi rekaman, "Hey, it’s Taylor. My brand new album 'The Life of a Showgirl' is out on October 3 and you can click to presave it so you can listen to it on Spotify." Kedua kalimat tersebut dipilih karena sudah menjadi ciri khas suara artis tersebut.

Sementara itu, foto yang didaftarkan menampilkan Swift di atas panggung menggunakan pakaian berpayet dengan memegang gitar merah muda. Penampilan ini sangat dikenal oleh penggemarnya dari rangkaian konser Eras Tour. Dengan mendaftarkan suara dan ciri khas fotonya, Swift ingin memastikan setiap penggunaan tanpa izin dapat diproses hukum dengan lebih tegas.

2. Kasus penggunaan AI tanpa izin yang dialami Taylor Swift

ilustrasi AI (magnific.com/freepik)

Langkah ini diambil karena wajah dan suara Swift sering digunakan untuk membuat konten AI tanpa izin, seperti iklan palsu, dukungan politik buatan, hingga gambar dewasa. Pada masa kampanye pemilihan presiden AS 2024, banyak gambar buatan AI yang seolah-olah menunjukkan Swift mendukung Donald Trump. Trump bahkan sempat membagikan gambar itu dan menganggapnya asli.

Kejadian serupa juga dialami oleh aktor Matthew McConaughey. Pada Januari 2026, ia berhasil mendapat delapan merek dagang dari USPTO, termasuk merek suara untuk kalimat khasnya, "Alright, alright, alright."

"Kami ingin membuat aturan yang jelas tentang hak milik, di mana izin dan penyebutan sumber menjadi hal yang wajib di era AI," kata Matthew McConaughey, dilansir The Business Standard.

Swift sendiri sudah sering mengurus merek dagang. Ia memiliki lebih dari 50 merek yang mencakup nama, judul album, sampai lirik lagu seperti "This sick beat" dan "We never go out of style" yang didaftarkan setelah album 1989 rilis pada 2014. Pengajuan baru ini menambah perlindungan untuk suara dan tampilan panggung sang artis yang sebelumnya belum dilindungi.

3. Pendapat ahli hukum tentang pendaftaran merek dagang ini

Ilustrasi merek (Pixabay)

Pengacara kekayaan intelektual, Josh Gerben, yang pertama kali membagikan kabar ini melalui blognya, menilai bahwa langkah Swift adalah cara baru yang belum pernah diuji di pengadilan.

"Walaupun aturan Right of Publicity yang ada sekarang sudah memberikan perlindungan dari penggunaan gambar tokoh terkenal tanpa izin, pendaftaran merek dagang bisa memberikan perlindungan tambahan," kata Josh Gerben, dilansir Sunday Times.

Gerben menambahkan bahwa sebelumnya penyanyi menggunakan hukum hak cipta untuk melindungi lagu rekaman mereka. Namun, situasinya sekarang sudah berbeda.

"Teknologi AI membuat orang bisa membuat konten baru dan meniru suara artis tanpa memakai rekaman asli. Hal ini membuat masalah baru yang mungkin bisa diatasi dengan merek dagang," tambah Gerben.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa penggunaan merek dagang untuk melindungi suara dan gambar artis dari AI masih menjadi hal baru yang belum teruji di pengadilan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team