Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tiga Alasan Perusahaan Lakukan Buyback Saham
ilustrasi beli saham (pexels.com/Yan Krukau)
  • Buyback mengurangi jumlah saham beredar sehingga porsi kepemilikan investor yang tetap memegang saham dapat meningkat.

  • Perusahaan dapat menggunakan buyback untuk mengelola struktur modal dan memanfaatkan harga saham yang dinilai lebih rendah dari nilai wajarnya.

  • Buyback berpotensi meningkatkan EPS, tetapi investor tetap perlu memperhatikan laba, arus kas, utang, dan penggunaan dana perusahaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Perusahaan melakukan buyback saham, yaitu membeli kembali sahamnya sendiri yang beredar di pasar.
  • Who?
    Perusahaan, pemegang saham, dan investor terlibat dalam aksi korporasi serta dampaknya.
  • Where?
    Buyback dilakukan terhadap saham perusahaan yang beredar di pasar; lokasi spesifiknya per saat ini masih belum diketahui.
  • When?
    Waktu pelaksanaan buyback hingga saat ini belum ada kepastian.
  • Why?
    Alasannya mencakup penyederhanaan struktur kepemilikan, penekanan biaya modal, pemanfaatan harga saham yang rendah, dan peningkatan EPS.
  • How?
    Perusahaan membeli kembali saham sehingga jumlah saham beredar berkurang dan laba per saham dapat meningkat, dengan asumsi laba bersih tidak berubah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri dari pasar. Ini bisa membuat jumlah saham berkurang dan bagian pemilik saham yang tersisa menjadi lebih besar. Buyback juga bisa membuat angka laba per saham naik. Tetapi, uang perusahaan bisa berkurang untuk investasi. Investor perlu melihat laba, kas, utang, dan penggunaan uang perusahaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Buyback memberi perusahaan alternatif untuk mengembalikan dana kepada pemegang saham sekaligus mengelola struktur modal. Berkurangnya saham beredar juga dapat meningkatkan porsi kepemilikan investor yang tetap memegang saham dan menaikkan EPS. Manfaat tersebut tetap berkaitan dengan kondisi laba, arus kas, utang, serta penggunaan dana perusahaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Buyback saham merupakan aksi korporasi ketika perusahaan membeli kembali sahamnya sendiri yang beredar di pasar. Langkah ini mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan porsi kepemilikan investor yang tetap memegang saham tersebut.

Dilansir Investopedia, perusahaan biasanya melakukan buyback untuk menyederhanakan struktur kepemilikan, menekan biaya modal, dan meningkatkan laba per saham (earnings per share/EPS).

Buyback dapat membuat saham perusahaan lebih menarik bagi investor dan mendukung kenaikan harga saham. Namun, kebijakan ini juga berisiko mengalihkan dana yang seharusnya digunakan untuk investasi dan pengembangan bisnis jangka panjang.

Karena itu, alasan perusahaan melakukan buyback perlu dipahami untuk melihat dampaknya terhadap pemegang saham dan kondisi keuangan perusahaan.

1. Menyederhanakan struktur kepemilikan dan hak suara

Ilustrasi diskusi tim dan manajemen konflik (Unsplash/Sebastian Herrmann)

Setiap saham biasa (common stock) mewakili bagian kepemilikan dalam perusahaan. Pemegang saham juga memiliki hak suara dalam pengambilan keputusan tertentu, termasuk yang berkaitan dengan kebijakan dan keuangan perusahaan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki satu pemilik pengelola dan satu juta pemegang saham lainnya. Dengan demikian, terdapat 1.000.001 pemilik.

Ketika perusahaan membeli kembali sahamnya, jumlah saham yang beredar di pasar berkurang. Jika saham tersebut tidak diterbitkan kembali, porsi kepemilikan investor yang masih memegang saham akan meningkat secara proporsional.

Saham biasa memberikan hak kepemilikan sekaligus hak suara. Sementara itu, saham preferen (preferred stock) memiliki karakteristik berbeda. Pemegang saham preferen mendapat prioritas pembayaran dividen dibandingkan pemegang saham biasa.

Mereka juga memiliki prioritas lebih tinggi dalam pembagian aset apabila perusahaan mengalami kebangkrutan, sesuai ketentuan yang berlaku.

2. Menekan biaya modal dan memanfaatkan harga saham yang rendah

Ilustrasi harga saham turun (unsplash.com/Hakan Nural)

Dividen merupakan salah satu bentuk imbal hasil yang diterima pemegang saham. Bagi perusahaan, pembiayaan melalui ekuitas juga memiliki biaya, salah satunya berupa tingkat pengembalian yang diharapkan investor.

Pembelian kembali saham dapat menjadi salah satu cara perusahaan mengembalikan dana kepada pemegang saham. Dalam kondisi tertentu, langkah ini juga dapat membantu perusahaan mengelola struktur modalnya.

Ketika kondisi ekonomi melambat, perusahaan mungkin mengurangi dividen untuk menjaga ketersediaan kas. Kebijakan tersebut dapat membuat sebagian investor menjual sahamnya.

Buyback dapat menjadi alternatif penggunaan dana perusahaan, meskipun dampaknya terhadap harga saham tidak selalu sama dan bergantung pada kondisi pasar.

Perusahaan juga dapat melakukan buyback ketika harga sahamnya dinilai lebih rendah daripada nilai wajarnya (undervalued). Kondisi tersebut dapat terjadi karena sentimen negatif terhadap kinerja jangka pendek, pemberitaan yang memengaruhi persepsi investor, atau pelemahan pasar saham secara umum.

3. Meningkatkan laba per saham dan menarik investor

ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif (vecteezy.com/Akarapong Chairean)

Buyback dapat membuat perusahaan terlihat lebih menarik bagi investor. Sebagian investor menilai langkah tersebut sebagai sinyal perusahaan memiliki kondisi keuangan yang cukup kuat dan tidak membutuhkan tambahan modal ekuitas dalam jumlah besar.

Pembelian kembali saham juga dapat meningkatkan laba per saham atau EPS. Rasio ini dihitung dengan membagi laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar selama periode tertentu.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan mencatat laba bersih Rp10 miliar dengan 100 juta saham beredar. Dengan asumsi seluruh laba tersebut tersedia bagi pemegang saham biasa, EPS perusahaan mencapai Rp100 per saham.

Jika perusahaan membeli kembali 10 juta saham dan jumlah rata-rata tertimbang saham beredarnya menjadi 90 juta, EPS meningkat menjadi sekitar Rp111,11 per saham, dengan asumsi laba bersih tidak berubah.

Artinya, EPS naik meskipun perusahaan tidak mencatat pertumbuhan laba. Kenaikan tersebut terjadi karena jumlah saham yang menjadi pembagi lebih sedikit.

Investor juga dapat membeli saham menjelang pelaksanaan buyback untuk mencari keuntungan dari potensi kenaikan harga. Permintaan tambahan dari investor berpotensi mendorong harga saham dan memengaruhi rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio/P/E).

Selain EPS dan P/E, rasio pengembalian atas ekuitas (return on equity/ROE) juga dapat berubah akibat buyback. Besarnya perubahan bergantung pada laba, nilai ekuitas setelah transaksi, dan kondisi keuangan perusahaan.

Meski demikian, kenaikan EPS maupun ROE tidak selalu berarti kinerja operasional perusahaan membaik. Investor tetap perlu memperhatikan pertumbuhan laba, arus kas, utang, dan penggunaan dana perusahaan sebelum menilai manfaat buyback.

Curated For You

Editorial Team

Related Article