ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif (vecteezy.com/Akarapong Chairean)
Buyback dapat membuat perusahaan terlihat lebih menarik bagi investor. Sebagian investor menilai langkah tersebut sebagai sinyal perusahaan memiliki kondisi keuangan yang cukup kuat dan tidak membutuhkan tambahan modal ekuitas dalam jumlah besar.
Pembelian kembali saham juga dapat meningkatkan laba per saham atau EPS. Rasio ini dihitung dengan membagi laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar selama periode tertentu.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan mencatat laba bersih Rp10 miliar dengan 100 juta saham beredar. Dengan asumsi seluruh laba tersebut tersedia bagi pemegang saham biasa, EPS perusahaan mencapai Rp100 per saham.
Jika perusahaan membeli kembali 10 juta saham dan jumlah rata-rata tertimbang saham beredarnya menjadi 90 juta, EPS meningkat menjadi sekitar Rp111,11 per saham, dengan asumsi laba bersih tidak berubah.
Artinya, EPS naik meskipun perusahaan tidak mencatat pertumbuhan laba. Kenaikan tersebut terjadi karena jumlah saham yang menjadi pembagi lebih sedikit.
Investor juga dapat membeli saham menjelang pelaksanaan buyback untuk mencari keuntungan dari potensi kenaikan harga. Permintaan tambahan dari investor berpotensi mendorong harga saham dan memengaruhi rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio/P/E).
Selain EPS dan P/E, rasio pengembalian atas ekuitas (return on equity/ROE) juga dapat berubah akibat buyback. Besarnya perubahan bergantung pada laba, nilai ekuitas setelah transaksi, dan kondisi keuangan perusahaan.
Meski demikian, kenaikan EPS maupun ROE tidak selalu berarti kinerja operasional perusahaan membaik. Investor tetap perlu memperhatikan pertumbuhan laba, arus kas, utang, dan penggunaan dana perusahaan sebelum menilai manfaat buyback.