Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Sepakat Turunkan Tarif Impor India Jadi 18 Persen
potret Perdana Menteri India, Narendra Modi (kiri) dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan) (commons.wikimedia.org/The White House)

Intinya sih...

  • India siap beli barang impor dari Amerika Serikat

  • Narendra Modi menyambut baik kesepakatan dagang baru dengan AS

  • Donald Trump pernah pasang tarif dagang tinggi untuk India pada 2025

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dilaporkan telah mencapai kesepakatan dagang baru dengan India. Trump setuju menurunkan tarif impor barang dari India dari yang semula 25 persen menjadi 18 persen.

Kesepakatan tersebut diumumkan langsung oleh Trump pada Senin (2/2/2026) usai dirinya melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Dalam pernyataannya, Trump menjelaskan kesepakatan itu diraih karena India bersedia berhenti membeli minyak dari Rusia.

1. India siap beli barang impor dari Amerika Serikat

Bendera India (pexels.com/Khaas Photographer)

Dalam kesepakatan tersebut, India juga berkomitmen untuk membeli berbagai produk impor dari Amerika Serikat senilai lebih dari 500 miliar dolar AS atau Rp8,8 triliun. Beberapa di antaranya, seperti produk pertanian, teknologi, dan batubara.

Selain itu, India juga berkomitmen untuk membeli produk minyak dari AS dan Venezuela. Ini dilakukan sebagai timbal balik karena Negeri Paman Sam sudah mau menurunkan tarif impor India jadi 18 persen.

"Dia (Narendra Modi) setuju untuk berhenti membeli minyak Rusia dan membeli lebih banyak minyak dari Amerika Serikat dan Venezuela," tulis Trump di laman Truth Social pribadinya, seperti dilansir BBC.

2. Narendra Modi menyambut baik kesepakatan dagang baru dengan AS

Perdana Menteri India, Narendra Modi (commons.wikimedia.org/Prime Minister's Office Government of India)

Modi menyambut baik kesepakatan dagang baru dengan Amerika Serikat. Ia menyebut, penurunan tarif barang impor dari India ke AS bakal mempererat kerja sama dagang di antara kedua negara.

Apa lagi, India saat ini juga sedang gencar melakukan kerja sama dagang dengan berbagai pihak. Pada 27 Januari 2026 lalu, misalnya, negara berjuluk Negeri Anak Benua itu juga melakukan perjanjian dagang bebas dengan Uni Eropa. Perjanjian  ini disepakati setelah hampir 2 dekade negosiasi berjalan alot di antara kedua pihak.

"Terima kasih sebesar-besarnya kepada Presiden (Donald) Trump atas nama 1,4 miliar rakyat India atas pengumuman yang luar biasa ini. Ketika dua ekonomi besar dan demokrasi terbesar di dunia bekerja sama, hal itu menguntungkan rakyat kita dan membuka peluang besar untuk kerja sama saling menguntungkan," tulis Modi di X.

3. Donald Trump pernah pasang tarif dagang tinggi untuk India pada 2025

ilustrasi tarif dagang Amerika Serikat (pexels.com/Markus Winkler)

Sebelum kesepakatan diraih, Trump pernah memasang tarif dagang tinggi kepada India pada Agustus 2025 lalu. Kala itu, Trump memberikan tarif 50 persen kepada semua produk impor yang datang dari India. Ini membuat India saat itu menjadi negara dengan tarif dagang AS tertinggi di Asia. 

Selain itu, Trump pada 2025 juga memberlakukan tarif dagang tambahan sebesar 25 persen kepada India sebagai hukuman karena mereka membeli minyak dari Rusia. Pemberlakuan tarif jumbo ini membuat hubungan dagang New Delhi dan Washington saat itu mengalami beberapa hambatan.

Sebagai informasi, Trump memang mencegah negara-negara di dunia untuk membeli minyak dari Rusia. Sebab, uang yang didapat dari hasil penjualan minyak dipakai oleh Rusia untuk membiayai invasi militer ke Ukraina. Oleh karena itu, jika semua negara tidak lagi membeli minyak dari Rusia, mereka bakal kehabisan dana untuk menyerang Ukraina.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team