Trump Umumkan Eksplorasi Besar Minyak dan Mineral di Greenland

- Donald Trump mengumumkan rencana eksplorasi besar minyak, gas, dan mineral di Greenland, sambil mengklaim cadangan minyaknya sangat besar dan mudah diakses tanpa memaparkan rincian proyek.
- Rencana tersebut berhadapan dengan kebijakan Greenland yang menghentikan izin baru eksplorasi minyak dan gas sejak 2021 karena kekhawatiran lingkungan, sementara Denmark dan Greenland belum menanggapi pernyataan Trump.
- Trump menekankan nilai strategis Greenland bagi pertahanan AS dan Eropa, setelah kesepakatan keamanan September memperluas kehadiran militer AS namun tetap menegaskan kedaulatan Denmark dan hak penentuan nasib warga Greenland.
Jakarta, IDN Times- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan eksplorasi besar minyak dan mineral Greenland akan segera dimulai. Pernyataan ini disampaikannya melalui akun platform Truth Social pada Rabu (14/10/2026).
Ia mengklaim pulau di kawasan Arktik itu menyimpan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Klaim ini muncul saat harga energi global terus melambung selama lebih dari tujuh bulan sejak perang di Iran pecah. Namun, pemerintah Greenland dan Denmark belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump.
1. Trump klaim cadangan minyak Greenland mudah diakses

ilustrasi pengeboran minyak (unsplash.com/Zbynek Burival) Trump mengutip pandangan sejumlah pakar untuk mendukung klaimnya soal potensi sumber daya alam di Greenland. Menurutnya, pulau terbesar di dunia tersebut memiliki cadangan minyak berlimpah yang mudah diakses dibandingkan wilayah lain.
"Eksplorasi minyak, gas, dan mineral besar-besaran bersiap untuk dimulai di Greenland kita yang baru dan indah! Jumlah minyak yang mudah didapat jauh lebih besar daripada hampir di mana pun di dunia," tulis Trump di Truth Social, dilansir Al Jazeera.
Meski antusias mengumumkan rencana tersebut, Trump tidak membeberkan rincian estimasi cadangan maupun jadwal kegiatan eksplorasi yang dimaksud. Ia juga tidak menjelaskan bentuk potensi keterlibatan pemerintah AS dalam proyek pertambangan itu.
Di sisi lain, pemerintah Greenland telah menghentikan penerbitan izin baru untuk eksplorasi minyak dan gas sejak 2021. Kebijakan ini diambil karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan perubahan iklim, meski izin yang terbit sebelumnya tetap berlaku.
2. Posisi strategis Greenland bagi pertahanan udara AS dan Eropa

tentara AS di Greenland (U.S. Government, Public domain, via Wikimedia Commons) Selain menyoroti potensi energi, Trump memuji keuntungan keamanan yang didapat AS dan Eropa dari pulau tersebut. Ia menilai lokasi geografis Greenland memegang peran penting dalam mempertahankan kedua kawasan dari potensi serangan di masa depan.
Trump berpendapat serangan udara terhadap wilayah AS tidak akan bisa dilakukan tanpa melewati kawasan Greenland. Kondisi ini membuat Washington mampu menetralisir setiap ancaman udara sebelum mencapai daratan utama mereka.
"Serangan masa depan terhadap Amerika Serikat harus melewati Greenland, tempat pertahanan kami akan rutin menjatuhkan drone, rudal, atau bentuk senjata lain yang bahkan belum terpikirkan. Ini memberi kami waktu, lokasi, dan jarak pandang yang tidak ada duanya di dunia!" kata Trump, dilansir Anadolu Agency.
3. Kesepakatan keamanan akhiri krisis perebutan wilayah

sebuah kapal di pesisir perairan Greenland. (unsplash.com/Hubert Neufeld) Pernyataan terbaru Trump ini menyusul kesepakatan keamanan yang dicapai antara Washington, Denmark, dan Greenland pada September lalu. Perjanjian tersebut memperluas peran dan kehadiran militer AS di pulau itu.
Kesepakatan ini membuka jalan bagi pembangunan dua pangkalan militer baru milik AS di Greenland. Selain itu, AS akan menempatkan sistem pertahanan rudal yang direncanakan Trump dengan nama Golden Dome.
Perjanjian pada bulan lalu itu bertujuan mengakhiri krisis diplomatik yang telah berlangsung selama hampir dua tahun. Ketegangan sebelumnya dipicu oleh penolakan Trump untuk mengesampingkan opsi perebutan paksa Greenland oleh militer AS.
Walau Trump menyebut pulau itu sebagai milik AS, Greenland tetap berstatus wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Kesepakatan keamanan bulan lalu turut menegaskan kembali kedaulatan Denmark serta hak warga Greenland untuk menentukan nasib sendiri.


















