Comscore Tracker

Menanti Rilis BPS, Ini Sederet Proyeksi Ekonomi Kuartal II-2021

BPS umumkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 siang ini

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) siang ini akan mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 (April-Juni). Pemerintah dan sejumlah lembaga riset sudah mengeluarkan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi kuartal II tersebut.

Baik pemerintah maupun lembaga riset independen memproyeksikan ekonomi kuartal II-2021 akan keluar dari jurang resesi. 

Perlu diketahui, Indonesia telah memasuki jurang resesi sejak kuartal III-2020. Sebab, pada kuartal II-2020 perekonomian Indonesia mengalami kontraksi hingga 5,32 persen secara year on year (yoy), lalu pada kuartal III-2020 mengalami kontraksi 3,49 persen. Resesi adalah kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut.

Pada kuartal IV-2020 pun Indonesia belum keluar dari jurang resesi, karena ekonominya masih mengalami kontraksi 2,19 persen yoy. Begitu juga pada kuartal I-2021 yang masih kontraksi 0,74 persen.

Baca Juga: Varian Delta Ganggu Pemulihan Ekonomi RI, Sri Mulyani Tolak Menyerah

1. Pemerintah optimistis ekonomi kuartal II-2021 bisa tumbuh 7 persen

Menanti Rilis BPS, Ini Sederet Proyeksi Ekonomi Kuartal II-2021Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Pada kuartal II-2021 ini pemerintah optimistis perekonomian Indonesia bisa tumbuh di atas 7 persen, tepatnya di kisaran 7,1-7,5 persen yoy

Ada beberapa faktor yang membuat pemerintah mengeluarkan proyeksi tersebut, pertama perbaikan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang di angka 53,5 pada Juni. Kemudian juga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 107,4, dan Indeks Penjualan Riil (IPR) di level 227,5 pada Mei 2021.

"Jadi kita  masih optimis di atas 7 persen, karena April-Mei hingga pertengahan Juni masih cukup kuat. Namun, kita sadari bahwa risiko mulai melonjak," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam CNBC Squawk Box pada Senin, (12/7/2021).

Sama seperti Sri Mulyani, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga optimistis perekonomian Indonesia bisa tumbuh di level 7 persen pada kuartal II-2021.

"Meningkatnya mobilitas masyarakat pada kuartal II-2021 mendorong kenaikan permintaan yang berpengaruh pada kredit yang mulai mencatatkan pertumbuhan cukup tinggi di Juni 2021 sebesar 1,83 persen (ytd), sehingga prediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2021 sebesar 7 persen dapat tercapai," tutur Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam keterangan resminya, Rabu (4/8/2021).

2. Proyeksi ekonomi kuartal II-2021 dari lembaga riset di Tanah Air

Menanti Rilis BPS, Ini Sederet Proyeksi Ekonomi Kuartal II-2021Ilustrasi Investasi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Sebanyak lima lembaga riset juga telah mengeluarkan proyeksi ekonomi kuartal II-2021. Kelimanya serempak memproyeksikan ekonomi kuartal II-2021 tak akan tumbuh sampai 7 persen seperti apa yang diproyeksikan pemerintah. Berikut rinciannya:

  • INDEF (Institute for Development of Economics and Finance): 5-5,5 persen.
  • PEPS (Political Economy & Policy Studies): 5,6 persen.
  • CORE (Center of Reform on Economics): 4,5-5,5 persen.
  • CELIOS (Center of Economic and Law Studies): 4 persen.
  • LPEM UI (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia): 6,2-6,7 persen.

Baca Juga: OJK Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 7 Persen di Kuartal II 2021

3. Ini alasan ekonom tak yakin ekonomi kuartal II-2021 bisa tumbuh 7 persen

Menanti Rilis BPS, Ini Sederet Proyeksi Ekonomi Kuartal II-2021Ilustrasi ekonomi terdampak pandemik COVID-19 (IDN Times/Arief Rahmat)

Sejumlah ekonom dari lembaga-lembaga di atas membeberkan faktor yang membuat mereka tak yakin ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 bisa tumbuh hingga 7 persen. Direktur Eksekutif INDEF, Tauhid Ahmad, menyebutkan ada tiga faktornya.

Faktor pertama adalah aktivitas dunia usaha yang menurun pada pekan terakhir Juni, karena lonjakan kasus COVID-19. Kedua, INDEF menilai permintaan kredit perbankan masih relatif rendah.

"Dari sisi putaran kredit, usaha itu masih belum membaik walaupun memang PMI sudah membaik. Ketiga, daya beli kita selama kuartal II masih relatif rendah, itu ditunjukkan oleh angka inflasi masih belum normal. Ini menunjukkan peningkatan pendapatan masyarakat relatif rendah, artinya secara umum pertumbuhan ekonomi belum begitu tinggi," ucap Tauhid kepada IDN Times.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal, menilai ekonomi kuartal II-2021 tak akan tumbuh hingga 7 persen, karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga belum kembali normal.

"Kenapa tidak sampai 7 persen? Karena dari sisi ekspansi pertumbuhan rumah tangga memang tidak setinggi itu, tidak sampai 7 persen, maksimum 5 persen. Industri ritel memang membaik, tapi kalau dilihat indeks penjualan riil, itu belum kembali seperti sebelum pandemik, jadi kemungkinannya kecil di atas 5 persen," ujar Faisal kepada IDN Times.

Selain itu, masih banyak sektor yang belum menunjukkan pemulihan, seperti transportasi dan pariwisata, sehingga menyebabkan ekonomi kuartal II-2021 sulit tumbuh hingga 7 persen.

"Sebagian sektor belum pulih, pariwisata, transportasi belum kembali normal. Kalau itu masih struggling, ya berarti pertumbuhan ekonominya juga tidak terlalu tinggi, tidak sampai 7 persen," ucap Faisal.

Topic:

  • Rochmanudin

Berita Terkini Lainnya