Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Vale Indonesia gandeng UI dan Kementerian ESDM respons isu emisi tambang
Vale Indonesia gandeng UI dan Kementerian ESDM respons isu emisi tambang (Dok. Vale Indonesia)

Intinya sih...

  • Industri pertambangan berkontribusi 12% terhadap PDB nasional

  • Vale Indonesia gandeng UI dan ESDM untuk talkshow tentang pertambangan berkelanjutan

  • Pemerintah perkuat pengawasan ESG dalam praktik pertambangan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Vale Indonesia Tbk menilai industri pertambangan harus bertransformasi dari sekadar praktik good mining menjadi responsible mining.

Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia Budiawansyah mengatakan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kini bukan lagi kewajiban administratif, melainkan fondasi dalam pengambilan keputusan bisnis.

Dia menyampaikan, keberlanjutan telah menjadi budaya perusahaan selama 58 tahun beroperasi. Menurutnya, seluruh perencanaan dan keputusan strategis disusun dengan pendekatan jangka panjang.

“Tidak ada masa depan tanpa pertambangan, dan tidak ada pula pertambangan tanpa memikirkan masa depan,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (18/2/2026).

Komitmen tersebut, kata dia, diwujudkan melalui produksi rendah emisi, pengelolaan limbah dan air berkelanjutan, tata kelola lahan yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

1. Kontribusi besar tapi tantangannya tak kecil

Ilustrasi Tambang Batu Bara (IDN Times/Aditya Pratama)

Industri pertambangan berkontribusi sekitar 12 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Pada 2024, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor mineral dan batu bara tercatat mencapai Rp140,5 triliun.

Sektor tersebut juga menyerap lebih dari 310 ribu tenaga kerja secara langsung dan berperan dalam penyediaan mineral kritis untuk mendukung transisi energi.

Namun, sektor tersebut masih dibayangi berbagai persoalan, mulai dari emisi karbon, dampak sosial di sekitar wilayah tambang, hingga isu lingkungan dan kesehatan kerja pascatambang. Kompleksitasnya dinilai membutuhkan pendekatan lintas disiplin, tak hanya teknis, tetapi juga sosial dan tata kelola.

Untuk merespons tantangan itu, Vale Indonesia menggandeng Universitas Indonesia (UI) dengan dukungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar talkshow bertajuk “Sustainability Mining for The Future: ESG Integration & Cross-Disciplinary Perspectives”.

Forum yang digelar di UI itu dimaksudkan untuk memperkuat literasi pertambangan berkelanjutan berbasis ESG serta membuka ruang dialog antara industri, pemerintah, dan mahasiswa.

2. Akademisi dorong kolaborasi lintas sektor

Ilustrasi Tambang (IDN Times/Aditya Pratama)

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kemahasiswaan, dan Alumni UI, Prof. Hamdi Muluk menilai isu keberlanjutan di sektor tambang relevan dengan peran kampus sebagai institusi yang berdampak. Tambang harus dilakukan secara menyeluruh dan bertanggung jawab, serta membutuhkan kontribusi aktif mahasiswa.

Guru Besar Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Prof. Fatma Lestari mengingatkan aspek kesehatan dan keselamatan kerja merupakan bagian integral dari ESG. Dia menekankan pentingnya pendekatan yang berorientasi pada manusia dalam menjaga keberlanjutan industri.

Adapun Duta Minerba Goes to Vale Indonesia Site 2025 Mohammad Daneth Faizurrizqi menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dan peningkatan literasi publik agar praktik pertambangan semakin transparan dan bertanggung jawab.

3. Pemerintah perkuat pengawasan ESG

Ilustrasi Tambang (IDN Times/Aditya Pratama)

Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara ESDM Siti Sumilah Rita Susilawati menjelaskan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat regulasi dan praktik pertambangan berbasis ESG.

“Mineral sebagai sumber daya tidak terbarukan harus dikelola secara bertanggung jawab. Hilirisasi menjadi kunci karena mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi hingga 64 kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah," ujar Siti.

Siti menegaskan pemerintah terus memperkuat regulasi dan pengawasan agar praktik pertambangan selaras dengan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, implementasi ESG harus terintegrasi dalam sistem tata kelola, bukan sekadar komitmen di atas kertas.

"Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peran generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam, melalui peningkatan pengawasan, edukasi masyarakat, serta penguatan implementasi prinsip ESG guna mengatasi tantangan kepatuhan sosial dan lingkungan," paparnya.

Editorial Team