Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WCCE 2026 Digelar di Jakarta, Menteri Ekraf: Ajang Soft Diplomacy
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat bertemu pimpinan media di Plataran, Jakarta, Rabu (30/9/2026). (dok. Kementerian Ekraf)
  • Indonesia akan menggelar WCCE 2026 di Jakarta pada 21-23 Oktober, menghadirkan delegasi dari 80 negara dan menempatkan ekonomi kreatif sebagai instrumen soft diplomacy.

  • WCCE menargetkan Jakarta Vision for Creative Economy, disusun bersama negara peserta untuk diusulkan menjadi resolusi PBB serta mengarusutamakan ekonomi kreatif dalam pembangunan global pasca-SDG 2030.

  • Pemerintah menyoroti ekonomi kreatif yang menyumbang PDB Rp1.757,87 triliun, tumbuh 6,86 persen, dan banyak menyerap tenaga kerja Millennial serta Gen Z.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

IDN Times, Jakarta - Indonesia dijadwalkan kembali menjadi tuan rumah The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. WCCE akan digelar di Hotel Kempinski dan kawasan SCBD, Jakarta, pada 21-23 Oktober mendatang dan akan dihadiri delegasi 80 negara. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya berharap WCCE 2026 bisa menjadi ajang soft diplomacy.

Harapan itu disampaikan Teuku Riefky dalam pertemuan Forum Redaksi dan Aspirasi Media Ekraf (FRAME) di Plataran, Jakarta, Rabu malam (30/9/2026). "Nanti, tidak hanya seni budayanya yang kita bawa keluar, tetapi juga IP dari ekonomi kreatifnya supaya memberikan nilai ekonomi yang menambah devisa negara,” ujar Teuku Riefky.

Forum tingkat dunia ini, kata dia, menargetkan lahirnya Jakarta Vision on Creative Economy sekaligus mengarusutamakan agenda ekonomi kreatif dalam pembangunan global pasca-SDG 2030 melalui diplomasi serta kolaborasi internasional.

1. Akan membawa rekomendasi WCCE ke PBB

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat bertemu pimpinan media di Plataran, Jakarta, Rabu (30/9/2026). (dok. Kementerian Ekraf)

Wamen Ekraf, Irene Umar, menambahkan bahwa penyelenggaraan WCCE 2026 mengedepankan pendekatan heksaheliks serta strategi desentralisasi lokasi.

Indonesia mencatatkan diri sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengimplementasikan pendekatan heksaheliks secara penuh, sehingga para delegasi internasional dapat menyaksikan secara langsung dinamika utuh ekosistem kreatif Indonesia.

“WCCE ini adalah untuk membawa resolusi ini ke United Nations (PBB), selain itu, ini menjadi ajang di mana stakeholders akan berkumpul bersama dari government hingga bisnis. Terlebih lagi WCCE bukan hanya ada plenary meeting tapi juga ada G2G meeting,” kata Wamen Ekraf.

WCCE 2026 ini merupakan ajang kelima, di mana sebelum menjadi tuan rumah di Jakarta, Indonesia pernah dua kali menyelenggaran kegiatan ini di Bali.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat bertemu pimpinan media di Plataran, Jakarta, Rabu (30/9/2026). (dok. Kementerian Ekraf)

Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2018, WCCE telah berkontribusi pada lahirnya dua resolusi PBB pada tahun 2019 dan 2023. Dan, untuk penyelenggaraan tahun 2026, Indonesia menargetkan perumusan Jakarta Vision for Creative Economy sebagai landasan untuk mengusulkan resolusi lanjutan di Sidang Majelis Umum PBB.

Nantinya dokumen Jakarta Vision akan disusun secara kolaboratif bersama negara-negara peserta dan ditargetkan menjadi resolusi PBB berikutnya, sehingga memperkuat landasan kebijakan global bagi ekonomi kreatif.

Salah satu komponen utama WCCE 2026 adalah Creativillage, sebuah ruang yang mengintegrasikan pameran, interaksi bisnis, dan aktivasi industri yang terhubung dengan Screenverse serta KultKreo.

Screenverse merupakan platform terintegrasi berskala internasional yang menghubungkan ekosistem industri berbasis layar—seperti film, serial, gim, streaming, dan konten digital—dalam sebuah ruang kolaboratif yang mempertemukan kreator, studio, platform, dan investor untuk mendorong investasi serta distribusi karya secara global.

3. Mempererat kerjasama dan mengenalkan tugas kementerian lewat FRAME

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya saat bertemu pimpinan media di Plataran, Jakarta, Rabu (30/9/2026). (dok. Kementerian Ekraf)

Terkait FRAME, Teuku Riefky berharap kehadirannya menjadi pijakan penting untuk mempererat hubungan dengan insan media sekaligus menyelaraskan agenda kementerian dengan mandat Asta Cita.

“Acara ini bertujuan untuk media dan Kementerian Ekraf agar semakin dekat,  juga untuk mengenalkan lebih dalam tentang penugasan yang diberikan kepada kementerian ini, serta apa yang sedang dan akan kami lakukan. Selaras dengan Asta Cita, Ekraf sebetulnya berkontribusi dalam hal lapangan kerja untuk generasi muda dan menopang kelas menengah,” katanya.

Mengambil tema United in Ideas, Empowering The Creative Economy, FRAME yang dihadiri 30 pimpinan media nasional ini membahas sektor ekonomi kreatif yang terus membuktikan peran vitalnya terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif berhasil menembus Rp1.757,87 triliun dengan pertumbuhan mencapai 6,86 persen atau melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen dan melampaui target RPJMN 2025 hingga 124 persen. Sektor ini juga menjadi penyerap utama tenaga kerja yang didominasi oleh generasi muda, yakni Millennial (36,63 persen) dan Gen Z (26,40 persen).

Menatap peran global, Menteri Ekraf menekankan pentingnya penguatan kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) sebagai instrumen soft diplomacy dan pendorong devisa negara.

Curated For You

Editorial Team

Related Article