Jakarta, IDN Times — Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Deni Friawan, menilai tingginya imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Indonesia mencerminkan besarnya premi risiko yang diminta investor. Kondisi ini menunjukkan masih kuatnya persepsi risiko terhadap perekonomian nasional.
Menurut Deni, tingginya yield obligasi pemerintah tidak terlepas dari lemahnya pengelolaan fiskal dan makroekonomi. Faktor lain yang turut memperberat adalah persoalan stabilitas politik dan kepastian hukum.
"Bond yield atau imbal hasil (bunga utang) kita itu sangat besar dibandingkan negara-negara lain di dunia. Kenapa? Ya karena resiko atau premi resiko kita itu sangat besar. Kenapa sangat besar? Ya karena pengelolaan fiskal kita dan makroekonomi kita itu tidak baik, selain ada permasalahan stabilitas politik dan hukum," kata Deni dalam media briefing di Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Dari sisi fiskal, pemerintah saat ini menghadapi tekanan defisit yang berkelanjutan serta peningkatan utang. Ekspansi fiskal dinilai cukup agresif, namun sebagian besar belanja masih bersifat konsumtif.
Konsekuensinya, pembiayaan defisit sangat bergantung pada penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dalam jumlah besar, yang pada akhirnya meningkatkan beban pembiayaan utang.
