Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Lipstick Effect: Psikologi di Balik Hasrat Belanja Konsumen Saat Krisis Ekonomi
ilustrasi seseorang memakai lipstik (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)
  • Lipstik meningkatkan penjualan saat ekonomi sulit, dikenal sebagai "lipstick effect" atau "lipstick index".

  • Perempuan membeli lipstik untuk meningkatkan emosi dan rasa percaya diri selama resesi ekonomi.

  • Peningkatan penjualan lipstik menimbulkan prediksi resesi, yang juga terjadi pada produk kosmetik lainnya di masa pandemi.

  • Lipstick effect menggambarkan peningkatan pembelian barang kemewahan kecil seperti lipstik saat ekonomi lesu, karena konsumen mencari kepuasan emosional tanpa mengeluarkan biaya besar.
  • Fenomena ini pertama kali dicatat oleh Leonard Lauder setelah tragedi 9/11 dan kembali muncul pada resesi 2008, menunjukkan pola bahwa penjualan kosmetik meningkat di masa krisis.
  • Tren belanja affordable luxury kini meluas ke parfum, tiket konser, hingga koleksi boneka, menjadi bentuk pelarian emosional masyarakat untuk menjaga semangat dan rasa percaya diri di tengah tekanan ekonomi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Lipstik mungkin jadi barang wajib yang tak pernah absen di dalam tas sebagian besar perempuan. Menariknya, produk kecantikan yang satu ini ternyata menyimpan rahasia besar: penjualannya disebut-sebut mampu mendeteksi tanda-tanda resesi ekonomi sebuah negara.

Inilah yang dinamakan lipstick effect. Mengapa ketidakpastian ekonomi justru memicu hasrat belanja kemewahan kecil ini? Yuk, bedah tuntas fenomena psikologi konsumen tersebut dalam uraian lengkap di bawah ini.

Teori resesi Lipstick Effect

ilustrasi (pexels.com/cottonbro studio)

Dikenal juga sebagai lipstick index, lipstick effect merupakan fenomena unik ketika pengeluaran masyarakat untuk barang-barang "kemewahan kecil" (affordable luxury), seperti lipstik premium, justru meningkat di masa-masa ekonomi lesu. Di saat anggaran tidak cukup untuk berlibur atau membeli barang desainer yang mahal, konsumen beralih membeli produk kecil yang tetap bisa memberikan kepuasan emosional.

Teori ini awalnya diperkenalkan oleh Juliet Schor dalam bukunya, The Overspent American (1998). Namun, istilahnya baru dikenal luas setelah Leonard Lauder, pewaris Estée Lauder, mencatat lonjakan penjualan lipstik pasca-tragedi 9/11 yang sempat mengguncang AS. Tren ini terbukti konsisten melintasi waktu, di mana Lauder kembali melaporkan fenomena peningkatan penjualan yang sama ketika resesi besar melanda dunia pada tahun 2008.

Di antara semua jenis kosmetik, mengapa lipstik?

ilustrasi lipstik (unsplash.com/@hungngng)

Di tengah impitan resesi dan tekanan ekonomi, perempuan cenderung mencari cara untuk menghibur diri tanpa harus menguras isi dompet. Di sinilah lipstik hadir sebagai pilihan utama untuk memberikan mood booster instan yang ramah anggaran.

Menurut Schor, ada sensasi menyenangkan tersendiri ketika seseorang berbelanja di department store mewah, lalu membiarkan dirinya tenggelam dalam fantasi visual menjadi sosok yang anggun dan menawan. Rasa percaya diri yang lahir dari perasaan "tampil cantik" inilah yang menjadi modal krusial bagi perempuan. Dengan energi positif tersebut, mereka merasa lebih siap dan tangguh untuk menghadapi klien, melakukan presentasi bisnis, hingga mengejar target penjualan demi mempertahankan pendapatan di masa sulit.

Secara praktis, dalam rutinitas harian yang padat, perempuan mungkin saja memilih untuk melewatkan tahapan makeup yang berlapis-lapis—seperti primer, foundation, blush on, eyeshadow, hingga maskara yang menyita waktu. Namun, lipstik pantang untuk dilewati. Selain praktis dan cepat diaplikasikan, seulas lipstik punya efek instan yang magis: mampu mengubah wajah yang tadinya pucat dan lelah menjadi tampak segar dan bersinar dalam sekejap.

Salah satu pertanda resesi

ilustrasi lipstik warna merah (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Tren lonjakan penjualan lipstik dan produk kosmetik lainnya terbukti terus menunjukkan grafik positif dalam beberapa tahun terakhir. Wilhendra Akmam, CEO Magpie, sempat memproyeksikan bahwa pada tahun 2024 lalu, produk riasan bibir secara global mampu menghasilkan pendapatan sebesar 22,17 miliar USD (sekitar Rp348 triliun), di mana pasar Indonesia berkontribusi menyumbang sekitar 359,3 juta USD (sekitar Rp5,6 triliun).

Namun, di balik kilaunya industri kecantikan, ada alarm peringatan yang membayangi. Fenomena tingginya konsumsi barang-barang ini sering kali dibaca sebagai indikator awal kecemasan pasar. Seperti yang dilaporkan oleh Elle Australia, ketakutan akan tekanan ekonomi di Australia pun terdeteksi lewat melonjaknya penjualan produk-produk di kategori tersebut.

Walau terdengar saling berkesinambungan, hubungan antara kosmetik dan krisis ini sebenarnya masih diperdebatkan. Secara makro, resesi baru sah dihitung ketika pertumbuhan ekonomi bernilai negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Alasan inilah yang membuat mayoritas ekonom ragu menerima lipstick effect sebagai alat ukur ekonomi yang valid, mengingat belum adanya bukti ilmiah yang solid untuk mendukung teori tersebut.

Tapi ternyata gak cuma lipstik

Labubu bakal diadaptasi jadi film (dok. Unsplash.com/David Kristianto)

Membeli lipstik dari merek mewah akhirnya menjadi strategi personal untuk mendongkrak rasa percaya diri di tengah impitan ekonomi. Schor menyebut fenomena ini sebagai bentuk pelarian instan dari rutinitas kehidupan sehari-hari yang menjemukan.

Menariknya, di era sekarang, lipstik bukan lagi satu-satunya pemain tunggal. Tren belanja affordable luxury ini meluas ke barang-barang tersier lainnya, seperti tiket konser hingga boneka Labubu yang penjualannya justru melonjak tajam. Anomali serupa juga sempat dicatat oleh firma riset pasar global, NPD Group (yang kini telah bertransformasi menjadi Circana). Data mereka menunjukkan adanya lonjakan penjualan wewangian (parfum) selama masa pandemik, sebuah anomali menarik mengingat saat itu mobilitas dibatasi dan semua orang wajib menyembunyikan wajah di balik masker.

Fenomena ini mempertegas bahwa masyarakat kini cenderung mengalihkan fokus belanja mereka pada kemewahan yang "terjangkau" demi mendapatkan hiburan di masa sulit. Berperan layaknya emotional support, seulas lipstik, semprotan parfum, koleksi boneka Labubu, hingga euforia menonton konser terbukti ampuh memberikan kepuasan, kebahagiaan, dan rasa percaya diri yang sangat dibutuhkan seseorang untuk bertahan menghadapi krisis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team