ilustrasi wiraswasta perempuan (pexels.com/Amina Filkins)
Kalau dilihat dari cara seseorang menjalankan dan mengembangkan usahanya, wiraswasta dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Perbedaannya terutama terlihat dari bagaimana mereka menyikapi inovasi, perubahan, dan ide bisnis yang sudah ada.
1. Wiraswasta inovatif (innovating entrepreneur)
Wiraswasta inovatif adalah pelaku usaha yang aktif menciptakan produk, layanan, atau cara baru dalam menjalankan bisnis. Mereka biasanya senang mencoba ide kreatif dan mencari peluang yang belum banyak dimanfaatkan di pasar.
Misalnya, seorang pemilik usaha makanan yang menciptakan menu baru dengan konsep berbeda untuk memberikan pengalaman baru kepada pelanggan.
2. Wiraswasta imitatif (imitative entrepreneur)
Berbeda dari wiraswasta inovatif, wiraswasta imitatif lebih memilih mengikuti ide, produk, atau konsep bisnis yang sudah terbukti berhasil.
Mereka tidak selalu menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi mengembangkan konsep yang sudah ada agar sesuai dengan pasar yang mereka targetkan.
Contohnya, seseorang melihat konsep minuman yang sedang populer kemudian membuka usaha serupa dengan menyesuaikan harga, lokasi, atau variasi produknya.
3. Wiraswasta fabian (fabian entrepreneur)
Wiraswasta Fabian cenderung berhati-hati ketika menghadapi perubahan. Mereka biasanya membutuhkan banyak pertimbangan sebelum mengadopsi teknologi, strategi, atau ide bisnis baru.
Sikap ini membuat mereka tidak terburu-buru mengikuti tren. Namun, proses pengambilan keputusan yang lebih lambat juga bisa membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pasar.
Contohnya, seorang pemilik toko pakaian sudah mengetahui bahwa pelanggan mulai banyak berbelanja melalui marketplace. Namun, ia tidak langsung memindahkan seluruh penjualannya ke platform digital. Ia memilih mempelajari sistemnya terlebih dahulu, menghitung biaya, melihat respon pelanggan, dan baru menerapkannya setelah merasa yakin.
4. Wiraswasta drone (drone entrepreneur)
Wiraswasta Drone merupakan pelaku usaha yang cenderung menolak perubahan dan inovasi. Mereka memilih mempertahankan cara kerja lama meskipun kondisi pasar dan persaingan sudah berubah.
Misalnya, pemilik usaha yang tetap menggunakan metode pemasaran lama dan enggan mencoba strategi digital meskipun pelanggan mulai beralih ke platform online. Sikap seperti ini dapat menjadi tantangan ketika kebutuhan konsumen terus berkembang.