Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bisakah Menabung Dana Darurat dan DP Rumah Bersamaan? Ini Jawabannya
ilustrasi beli rumah, KPR (vecteezy.com/Suwaree Tangbovornpichet)
  • Dana darurat harus jadi prioritas utama sebelum menabung DP rumah agar keuangan tetap stabil dan tabungan tidak terpakai untuk kebutuhan mendadak.
  • Memiliki dana darurat membantu menghindari utang berbunga tinggi serta meningkatkan peluang persetujuan KPR dengan kondisi finansial yang lebih sehat.
  • Mulailah menabung dari nominal kecil secara rutin, hindari lifestyle inflation, dan setelah dana darurat aman, fokuskan tabungan untuk DP rumah sesuai kemampuan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya rumah sendiri memang jadi impian banyak orang. Di sisi lain, kamu juga perlu punya dana darurat supaya kondisi keuangan tetap aman saat ada kejadian tak terduga.

Masalahnya, menabung untuk dua tujuan besar sekaligus sering terasa berat, apalagi kalau penghasilan masih terbatas. Banyak orang akhirnya bingung, mana yang harus diprioritaskan lebih dulu: dana darurat atau uang muka alias DP rumah?

Jawabannya ternyata gak sesederhana “dua-duanya sekaligus”. Supaya kamu gak salah langkah, penting untuk memahami fungsi masing-masing tabungan dan cara mengaturnya dengan lebih realistis.

1. Dana darurat sebaiknya jadi prioritas utama

ilustrasi emergency fund atau dana darurat (vecteezy.com/pichai pipatkuldilok)

Menabung DP rumah dan dana darurat memang bisa dilakukan bersamaan, tapi kondisi itu justru bisa membuat keuanganmu kurang stabil. Saat dana darurat belum tersedia, semua uang tabungan yang kamu punya pada akhirnya akan dianggap sebagai “uang penyelamat” ketika ada masalah mendadak. Jadi, tabungan DP rumah pun berisiko terpakai sewaktu-waktu.

Bayangkan kalau kamu sudah berhasil mengumpulkan beberapa juta rupiah untuk DP rumah, lalu tiba-tiba kendaraan rusak atau kehilangan pekerjaan. Kemungkinan besar, kamu akan mengambil uang dari tabungan rumah tersebut untuk menutup kebutuhan mendesak. Akibatnya, target membeli rumah jadi mundur lagi dari awal.

2. Dana darurat membantu kamu terhindar dari utang mahal

ilustrasi kartu kredit (vecteezy.com/dao_kp20226443)

Dana darurat bukan cuma sekadar tabungan biasa, lho, tapi juga pelindung kondisi finansialmu. Saat ada pengeluaran mendadak, kamu gak perlu bergantung pada kartu kredit atau pinjaman berbunga tinggi. Ini penting karena utang dengan bunga besar bisa membuat kondisi keuangan makin berat.

Selain itu, kondisi utang yang terlalu tinggi juga bisa memengaruhi peluangmu saat mengajukan KPR nanti. Semakin sehat kondisi finansialmu, semakin besar kemungkinan bank memberikan persetujuan pinjaman dengan bunga yang lebih baik. Karena itu, membangun dana darurat lebih dulu sebenarnya juga membantu proses membeli rumah di masa depan.

Idealnya, dana darurat yang disiapkan sekitar tiga sampai enam bulan biaya hidup. Jumlah ini bisa lebih besar kalau kamu punya tanggungan, bekerja freelance, memiliki usaha sendiri, atau penghasilan yang tidak tetap. Kalau target tersebut terasa terlalu besar, kamu bisa mulai dari tujuan kecil terlebih dahulu, misalnya setara satu bulan pengeluaran rutin.

3. Mulai dari nominal kecil tetap lebih baik

ilustrasi savings, mata uang rupiah (vecteezy.com/tri agung susilo haryono)

Banyak orang menunda menabung karena merasa penghasilannya belum cukup besar. Padahal, membangun kebiasaan menabung jauh lebih penting dibanding langsung menyetor nominal besar. Bahkan menyisihkan uang sedikit demi sedikit secara rutin tetap bisa memberikan hasil dalam jangka panjang.

Kamu bisa mulai dengan memisahkan sebagian kecil gaji setiap menerima penghasilan. Misalnya Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per minggu untuk dana darurat terlebih dahulu. Saat jumlahnya mulai terkumpul dan kondisi keuangan lebih stabil, barulah kamu bisa fokus lebih besar ke tabungan DP rumah.

Cara lain yang cukup membantu adalah membuat transfer otomatis ke rekening tabungan. Dengan begitu, kamu gak tergoda memakai semua uang untuk kebutuhan konsumtif. Kebiasaan sederhana seperti ini sering kali lebih efektif dibanding menabung hanya saat ada sisa uang.

4. Hindari gaya hidup yang ikut naik saat penghasilan bertambah

ilustrasi Wi-Fi, kafe (pexels.com/George Pak)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah pengeluaran ikut meningkat ketika gaji naik. Baru mendapat kenaikan penghasilan sedikit, tapi langsung mengganti gadget, kendaraan, atau lebih sering nongkrong. Kondisi ini dikenal sebagai lifestyle inflation dan bisa memperlambat tujuan finansialmu.

Daripada menambah pengeluaran, kamu bisa mengalokasikan tambahan penghasilan untuk mempercepat dana darurat dan DP rumah. Misalnya, saat mendapat bonus atau THR, sebagian uang langsung masuk ke tabungan tujuan. Cara ini membuat progres tabungan terasa lebih cepat tanpa harus mengubah kondisi hidup secara drastis.

Kalau masih memiliki utang berbunga tinggi, sebaiknya lunasi lebih dulu sebelum agresif menabung. Bunga utang yang besar bisa menggerus kemampuan finansialmu setiap bulan. Setelah cicilan lebih ringan, proses menabung biasanya akan terasa jauh lebih mudah.

5. Setelah dana darurat aman, fokus ke DP rumah

ilustrasi budgeting (freepik.com/tirachardz)

Begitu dana darurat sudah cukup, kamu bisa mulai mengarahkan tabungan secara lebih serius untuk DP rumah. Pada tahap ini, kondisi finansial biasanya lebih stabil sehingga risiko mengambil uang tabungan jadi lebih kecil. Kamu juga bisa menentukan target rumah sesuai kemampuan finansial.

Besarnya DP rumah sebenarnya gak selalu harus 20 persen, walaupun angka tersebut sering dianggap ideal untuk menghindari biaya tambahan tertentu. Ada juga program KPR dengan DP rendah, bahkan beberapa program tertentu menawarkan DP sangat kecil. Namun, semakin besar DP yang kamu siapkan, biasanya cicilan bulanan akan terasa lebih ringan.

Supaya tabungan DP berkembang lebih cepat, simpan uang di rekening berbunga tinggi atau instrumen yang relatif aman. Kalau memungkinkan, bantuan keluarga juga bisa menjadi tambahan untuk mempercepat target membeli rumah. Selain itu, kamu bisa mempercepat target dengan menyisihkan bonus kerja, THR, atau penghasilan tambahan langsung ke tabungan DP rumah.

Menabung dana darurat dan DP rumah memang bisa dilakukan bersamaan, tapi prioritas utamanya tetap dana darurat terlebih dahulu. Tanpa perlindungan finansial yang cukup, tabungan DP rumah berisiko terus terpakai saat ada kebutuhan mendadak.

Setelah kondisi keuangan lebih stabil, kamu bisa lebih fokus mengejar impian punya rumah sendiri tanpa rasa khawatir berlebihan. Kuncinya bukan soal seberapa besar penghasilanmu, melainkan bagaimana kamu mengatur prioritas dan konsisten menabung sedikit demi sedikit.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team