Ilustrasi UOB/ askarim Shutterstock
Tak hanya itu, Ia mengatakan, UOB juga berupaya membantu perusahaan-perusahaan yang memiliki kegiatan bisnis lintas negara, khususnya ketika terjadi arus perdagangan dan investasi antarnegara ASEAN maupun antara ASEAN dan China. Dengan strategi tersebut, pertumbuhan UOB turut bergantung pada perkembangan arus perdagangan dan investasi di kawasan.
"Kalau flow of goods and services investment yang bagus, ya kita akan bagus. Kalau flow of goods and services investment yang jelek, ya kita bisa berjalan di bawah itu," ujar Herman.
Ke depan, UOB tetap akan mengandalkan kekuatannya sebagai bank regional. Namun, fokus sektornya berpotensi semakin terdiversifikasi seiring perubahan pola pperdagangan dan investasi global.
Dia menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, arus investasi ke kawasan banyak berkaitan dengan sektor sumber daya alam. Namun, UOB kini melihat peluang baru dari pertumbuhan data center, kawasan industri, hingga economic zone di ASEAN. Perubahan tersebut tidak terlepas dari dinamika geopolitik antara China dan Amerika Serikat. Strategi China plus one membuat perusahaan yang memiliki basis produksi di China mempertimbangkan untuk memiliki fasilitas produksi di luar China.
"Pilihan mereka apakah Vietnam, Malaysia, Indonesia atau mana, dengan beda pilihan iklim investasi yang paling bagus. Indonesia juga banyak mendapat inflow dari sana," ujarnya.
Menurut Herman, ketika sektor-sektor baru mulai masuk seiring proses industrialisasi di Indonesia dan negara ASEAN lainnya, UOB akan menyesuaikan fokus bisnisnya dengan peluang tersebut.
"UOB ke depannya masih harus play our strength sebagai regional bank, cuma mungkin fokus sektornya bisa lebih diversifikasi. Sekarang banyak data center, kita memang harus ke arah sana. Sekarang banyak industrial park dan economic zone," ujarnya.