Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Enggan Bersaing dengan Bank Lokal, UOB Fokus Garap Arus Bisnis ASEAN
Direktur Utama UOB Indonesia Hendra Gunawan saat mengunjungi IDN Times. (IDN Times/Triyan).
  • UOB Indonesia tidak membidik persaingan langsung dengan bank lokal, melainkan mengandalkan jaringan regional untuk memfasilitasi perdagangan, jasa, dan investasi di Asia.
  • Melalui tim FDI dan roadshow global, UOB mempertemukan investor dengan peluang ASEAN serta memberi pandangan lintas negara sesuai karakteristik bisnis dan kebutuhan investasi.
  • UOB menyesuaikan fokus pada arus perdagangan-investasi kawasan, dengan peluang baru di data center, kawasan industri, dan economic zone seiring diversifikasi investasi ASEAN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Bank UOB Indonesia melihat persaingan dengan bank lokal bukan sebagai strategi utama dalam mengembangkan bisnis. Sebagai bank asing, UOB memilih memanfaatkan kekuatan sebagai bank regional untuk menghubungkan perdagangan dan investasi antarnegara di kawasan Asia.

Acting Head of Consumer Banking UOB Indonesia, Herman Soesetyo mengatakan, posisi bank asing di suatu negara memang cenderung lebih kecil dibandingkan bank lokal. Karena itu, UOB tidak berupaya bersaing secara langsung dengan bank-bank besar di Indonesia.

"Kita tahu, ini bukan cuma spesial di Indonesia. Di semua negara, selama kita bank asing, pasti lebih kecil dari bank lokal," ujarnya.

1. UOB menawarkan layanan yang berbeda dengan bank-bank besar lokal

Bank UOB Indonesia (dok. Istimewa)

UOB memahami bahwa ketika beroperasi sebagai bank asing di negara lain, persaingan secara langsung dengan bank lokal bukan pilihan yang masuk akal. Sebagai gantinya, UOB menawarkan layanan yang berbeda dengan bank-bank besar lokal. Salah satunya dengan memanfaatkan jaringan regional UOB untuk memfasilitasi arus barang, jasa, dan investasi di kawasan Asia.

"Kita mau supaya kita bisa memfasilitasi pergerakan barang dan jasa di Asia, misalnya China dan Greater China. Jadi, flow of goods and services in the region, dan juga termasuk investment," kata Herman.

2. UOB dapat memberikan pandangan lintas negara kepada calon investor karena memiliki jaringan operasional di berbagai negara

Menara UOB Indonesia. (dok. UOB)

Strategi tersebut juga dilakukan melalui bisnis foreign direct investment (FDI). UOB memiliki tim khusus FDI di Indonesia maupun sejumlah negara lain yang bertugas mempertemukan investor dengan peluang investasi di kawasan ASEAN. Tim tersebut secara rutin melakukan roadshow ke China, Korea Selatan, Jepang, Eropa hingga Amerika Serikat untuk menawarkan peluang investasi di negara-negara ASEAN.

Menurut Herman, UOB dapat memberikan pandangan lintas negara kepada calon investor karena memiliki jaringan operasional di berbagai negara. Investor dapat diarahkan ke negara yang dinilai sesuai dengan karakteristik bisnis dan kebutuhan investasinya.

"Kalau kamu seperti ini, Indonesia cocok sekali. Kalau seperti ini, Vietnam cocok sekali. Jadi memang kita promosi seperti itu," ujarnya.

Strategi tersebut menjadi pembeda UOB dengan bank besar Indonesia seperti Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Central Asia (BCA). UOB mengandalkan posisi Singapura sebagai salah satu pusat keuangan regional serta jaringan UOB di kawasan untuk memberikan layanan lintas negara.

"Kita merasa sebagai bank regional, Singapura bagaimana pun juga regional financial center dan punya reputasi yang cukup baik di mata Indonesia, stabil, rule of law, all the good stuff. Jadi kita bisa memberikan unbiased view dari operasi kita di negara-negara ini," kata dia.

3. Arus investasi ke kawasan banyak berkaitan dengan sektor sumber daya alam

Ilustrasi UOB/ askarim Shutterstock

Tak hanya itu, Ia mengatakan, UOB juga berupaya membantu perusahaan-perusahaan yang memiliki kegiatan bisnis lintas negara, khususnya ketika terjadi arus perdagangan dan investasi antarnegara ASEAN maupun antara ASEAN dan China. Dengan strategi tersebut, pertumbuhan UOB turut bergantung pada perkembangan arus perdagangan dan investasi di kawasan.

"Kalau flow of goods and services investment yang bagus, ya kita akan bagus. Kalau flow of goods and services investment yang jelek, ya kita bisa berjalan di bawah itu," ujar Herman.

Ke depan, UOB tetap akan mengandalkan kekuatannya sebagai bank regional. Namun, fokus sektornya berpotensi semakin terdiversifikasi seiring perubahan pola pperdagangan dan investasi global.

Dia menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, arus investasi ke kawasan banyak berkaitan dengan sektor sumber daya alam. Namun, UOB kini melihat peluang baru dari pertumbuhan data center, kawasan industri, hingga economic zone di ASEAN. Perubahan tersebut tidak terlepas dari dinamika geopolitik antara China dan Amerika Serikat. Strategi China plus one membuat perusahaan yang memiliki basis produksi di China mempertimbangkan untuk memiliki fasilitas produksi di luar China.

"Pilihan mereka apakah Vietnam, Malaysia, Indonesia atau mana, dengan beda pilihan iklim investasi yang paling bagus. Indonesia juga banyak mendapat inflow dari sana," ujarnya.

Menurut Herman, ketika sektor-sektor baru mulai masuk seiring proses industrialisasi di Indonesia dan negara ASEAN lainnya, UOB akan menyesuaikan fokus bisnisnya dengan peluang tersebut.

"UOB ke depannya masih harus play our strength sebagai regional bank, cuma mungkin fokus sektornya bisa lebih diversifikasi. Sekarang banyak data center, kita memang harus ke arah sana. Sekarang banyak industrial park dan economic zone," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article