Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Kategori Produk yang Bisa Didiskon, Toko Laris Tanpa Rugi

5 min read
6 Kategori Produk yang Bisa Didiskon, Toko Laris Tanpa Rugi
ilustrasi lapak buku (pexels.com/Yaşar Başkurt)
  • Diskon paling tepat diberikan pada stok bermasa simpan terbatas yang lambat terjual, terutama makanan dan minuman, agar tetap menghasilkan keuntungan tipis sebelum kedaluwarsa.
  • Produk yang sering dibeli dalam jumlah banyak, berpotensi repeat order, atau menjadi kebutuhan harian dapat didiskon untuk menarik pelanggan tanpa menghilangkan laba.
  • Barang viral dan produk buatan sendiri berbiaya rendah bisa diberi potongan harga secara terukur; penjual perlu menjaga harga agar tidak memicu kerugian atau persaingan tidak sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu berjualan apa? Berdagang memang gampang-gampang susah. Sisi mudahnya, dirimu bisa memulainya dari rumah tanpa perlu menyewa tempat. Barang dagangan juga tak selalu harus dibeli dulu olehmu.

Kamu dapat memakai sistem titip jualan. Namun, berjualan ternyata juga ada tantangannya. Terutama dari segi penjualan. Bisa gak daganganmu laku? Kalaupun barang yang tak terjual dapat dikembalikan ke produsen atau agen, tentu dirimu kehilangan potensi keuntungan.

Sebisa mungkin, usaha harus tetap cuan meski tipis. Untuk mencapai ini, strategi pemberian potongan harga kerap dipakai guna menarik minat konsumen. Akan tetapi, diskon tidak boleh asal diberikan. Nanti malah kamu merugi. Ada enam kategori produk yang bisa didiskon supaya laku keras tanpa bikin rugi.

  1. 1. Produk yang gak laku-laku padahal masa simpan terbatas

    warung
    ilustrasi warung (pexels.com/Quintin Gellar)

    Tidak semua produk yang tak kunjung laku boleh dikasih diskon. Dalam dunia perdagangan, masa simpan lebih penting daripada persoalan sekarang suatu barang laku atau gak. Barang yang penjualannya lambat tetapi daya simpannya sangat lama tidak mendesak untuk segera dikeluarkan dari gudang.

    Contohnya, aneka bahan bangunan. Malah, produk-produk ini dapat menjadi investasi. Biarkan saja stoknya kalau sekarang belum terjual. Nanti, saat banyak orang mencarinya padahal harga telah naik, kamu bisa menjualnya dengan harga baru.

    Keuntungan naik karena harga kulakannya dulu lebih murah. Lain dengan barang yang punya masa kedaluwarsa, seperti makanan dan minuman. Keduanya mending dijual dengan keuntungan super tipis daripada tak bisa lagi dikonsumsi. Tentu, barang diobral jangan terlalu mepet dengan tanggal kedaluwarsa supaya sempat dihabiskan pembeli dan dipastikan aman.

  2. 2. Produk yang pasti dibeli lebih dari satu

    toko aneka perkakas
    ilustrasi toko aneka perkakas (pexels.com/Onur)

    Pembelian lebih dari satu berarti keuntungan ganda buatmu. Misalnya, satu produk terjual memberimu keuntungan 5 ribu rupiah. Kalau orang sering membelinya minimal 2 buah bahkan selusin, keuntunganmu tinggal dikalikan jumlah barang.

    Penjual punya ruang yang cukup untuk menyenangkan konsumen dengan pemberian diskon. Contoh produknya ialah pakaian dalam. Orang umumnya ke toko minimal membeli 2 potong pakaian dalam. Bahkan bisa 6 sampai 12 sekalian untuk ganti setiap hari.

    Tanpa diskon, keuntunganmu per 6 produk adalah 30 rupiah. Jika dirimu memberikan diskon 5 ribu rupiah untuk pembelian setengah lusin, keuntungan 25 ribu rupiah masih masuk kantong. Agar penjualan lebih tinggi, belanja 12 potong sekaligus, diskonnya lebih gede.

    Misalnya, 12 ribu rupiah. Kamu masih mendapat untung 48 ribu rupiah per transaksi. Barang cepat habis, pembeli senang dan bakal jadi pelanggan, dompetmu pun lekas gemuk.

  3. 3. Produk yang sangat mungkin repeat order

    toko aneka kebutuhan
    ilustrasi toko aneka kebutuhan (pexels.com/Thilina Alagiyawanna)

    Produk yang dipesan berulang biasanya bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena kecocokan. Kalau barang sekadar dibutuhkan, satu jenis produk memiliki banyak substitusi. Orang dapat sewaktu-waktu beralih ke merek lain dengan pertimbangan harga.

    Sementara itu, produk yang dibeli lagi karena kecocokan menciptakan pelanggan khusus. Contohnya, pembelian aneka kosmetik. Konsumen biasanya tidak gonta-ganti merek apabila telah menemukan produk yang paling cocok untuk kulitnya.

    Coba-coba produk lain meski klaimnya sama berisiko menimbulkan iritasi kulit jika tak cocok. Kamu dapat mengurangi keuntungan produk tersebut. Ini menjadi pancingan untuk konsumen kembali lagi ke tokomu daripada membeli produk yang sama di toko berbeda tanpa diskon.

  4. 4. Barang kebutuhan sehari-hari

    toko kecil
    ilustrasi toko kecil (pexels.com/Thilina Alagiyawanna)

    Barang kebutuhan sehari-hari banyak sekali macamnya. Misalnya, sabun mandi, pasta gigi, sampai kebutuhan dapur. Produk-produk di atas memang biasanya tidak dipatok terlalu mahal.

    Meski begitu, jika dirimu mau menurunkan harga barang 100 atau 200 rupiah, itu sudah sangat menyenangkan bagi konsumen. Di warung sebelah, misalnya, harga sabun mandi batang 4 ribu rupiah. Di tempatmu sabun yang sama dijual Rp. 3900,00.

    Selisih 100 rupiah pun telah membuat orang merasa berhasil berhemat. Alasannya, sabun mandi rutin dibutuhkan. Untuk satu orang saja, per bulan dapat menghabiskan 4 batang sabun, apalagi satu keluarga. Penghematan bagi konsumen makin terasa bila strategi serupa diterapkan pada produk kebutuhan sehari-hari lainnya.

  5. 5. Produk yang sedang viral

    toko aneka perlengkapan
    ilustrasi toko aneka perlengkapan (pexels.com/Kishan Kumar)

    Produk yang viral diburu orang berapa pun harganya. Oleh sebab itu, tidak salah juga seandainya penjual menaikkan keuntungan mereka. Barang dijual mahal saja tetap dicari oleh para peminatnya, kok. Namun, bayangkan seandainya kamu justru memakai strategi anomali.

    Dirimu tetap mengambil untung, tapi gak setinggi penjual lain yang memanfaatkan momen viral. Barang daganganmu pasti laku keras. Terpenting, kamu tak membanting harga sampai jauh di bawah pasaran.

    Jika dirimu melakukannya, akan terjadi persaingan yang tidak sehat. Pun kamu bukannya untung, malah bisa rugi sendiri. Cukup labamu sedikit dipangkas, pembeli makin membeludak. Barang yang dicari karena viral sering kali cuma bertahan beberapa saat. Saat tren habis, dirimu telah mengantongi banyak keuntungan dari menggenjot penjualan.

  6. 6. Produk dengan biaya produksi rendah

    toko aneka kebutuhan
    ilustrasi toko aneka kebutuhan (pexels.com/Emrah Yazıcıoğlu)

    Ini berlaku apabila kamu memproduksi sendiri suatu barang. Jika barang dihasilkan oleh pihak lain, tentu dirimu tidak dapat mengintervensi harga jual. Paling kamu cuma bisa menipiskan keuntungan pribadimu sedikit sekali.

    Sementara itu, barang buatan sendiri yang biaya produksinya rendah masih lebih mungkin dijual jauh lebih murah daripada produk serupa yang cuma titipan. Contohnya, kamu berjualan makanan bikinan sendiri. Penambahan laba cukup satu kali.

    Jika dirimu menjual makanan titipan orang lain, penambahan keuntungannya dua kali. Yaitu, laba untuk pembuatnya dan jatahmu. Bila pun penitip minta harga jualnya jangan dinaikkan dan ia yang akan berbagi keuntungan denganmu, tentu nilai labanya telah digandakan.

    Demikian pula, produk buatan sendiri tapi berbiaya tinggi kurang pas dikasih diskon. Keuntunganmu tanpa potongan harga pun gak bisa besar, atau barang akan menjadi terlalu mahal. Jika harga jualnya masih dimurahkan, modal memang kembali, tapi kamu seakan-akan cuma dapat capeknya.

    Pedagang memperoleh penghidupan dari keuntungan penjualan tiap produk. Kamu kudu kreatif dan cermat berhitung. Salah satu caranya adalah menentukan kategori produk yang bisa didiskon supaya laba tetap diperoleh. Sekaligus, pembeli merasa diuntungkan setiap berbelanja di tempatmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More