ilustrasi saham (pexels.com/Yan Krukau)
Investor juga mempertimbangkan kondisi keuangan, model bisnis, peluang pertumbuhan, serta posisi perusahaan di industrinya. Jika perusahaan dinilai memiliki prospek kuat dan harga IPO dianggap wajar, pasar mungkin bersedia membayar lebih tinggi setelah saham mulai diperdagangkan. Sebaliknya, perusahaan dengan risiko bisnis besar atau valuasi yang terlalu tinggi bisa kesulitan mempertahankan minat investor.
Untuk menilai saham IPO, investor dapat mempelajari prospektus, pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, penggunaan dana hasil IPO, serta rasio valuasi seperti price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) jika relevan. Perbandingan dengan perusahaan sejenis juga membantu memberikan gambaran apakah harga penawarannya masuk akal. Dengan begitu, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada tren kenaikan harga pada hari pertama.
Saham IPO sering naik pada hari pertama karena kombinasi harga penawaran yang menarik, antusiasme investor, keterbatasan saham yang diperdagangkan, dan ekspektasi keuntungan jangka pendek. Namun, setiap IPO memiliki karakteristik berbeda, sehingga tidak ada jaminan bahwa saham baru akan selalu mengalami kenaikan setelah pencatatan. Investor tetap perlu memahami faktor yang mendorong pergerakan harga sebelum memutuskan untuk membeli.
Kenaikan harga pada hari pertama juga tidak otomatis menunjukkan bahwa perusahaan memiliki fundamental yang kuat atau sahamnya layak disimpan dalam jangka panjang. Sebelum berinvestasi, periksa prospektus, valuasi, kondisi keuangan, dan risiko bisnis perusahaan secara menyeluruh. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat menghindari keputusan impulsif hanya karena takut melewatkan peluang keuntungan atau fear of missing out (FOMO).