Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Kesalahan Investor yang Bikin Investasi Malah Boncos
ilustrasi investasi (Pexels.com/Yan Krukau)
  • Membeli aset hanya karena sedang ramai atau kinerja masa lalu dapat memicu keputusan FOMO tanpa memahami fundamental, prospek, dan risiko investasi.
  • Biaya transaksi, pengelolaan, komisi, serta administrasi yang tampak kecil dapat berulang dan menggerus nilai portofolio serta imbal hasil jangka panjang.
  • Menempatkan sebagian besar dana pada satu aset membuat portofolio rentan; diversifikasi dan alokasi sesuai tujuan, jangka waktu, serta toleransi risiko membantu mengurangi dampaknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Investasi sering dianggap sebagai cara untuk mengembangkan uang dalam jangka panjang. Namun, membeli aset tidak otomatis membuat seseorang memperoleh keuntungan. Kesalahan dalam mengambil keputusan justru bisa membuat hasil investasi jauh dari harapan. Bahkan, investor bisa mengalami kerugian bukan hanya karena harga aset turun, tetapi juga karena terlalu sering bertransaksi, mengabaikan biaya, atau menaruh terlalu banyak uang pada satu jenis aset.

Dilansir Investor.gov, ada sejumlah perilaku yang dapat mengganggu kinerja investasi. Di antaranya active trading, terlalu berfokus pada kinerja masa lalu, menahan investasi yang merugi terlalu lama, dan menjual investasi yang untung terlalu cepat. Lantas, kesalahan apa saja yang perlu dihindari agar investasi tidak malah boncos?

1. Membeli aset hanya karena sedang ramai

ilustrasi investasi (Pexels.com/Yan Krukau)

Pernah melihat harga suatu saham atau aset melonjak, kemudian muncul keinginan untuk ikut membeli karena takut ketinggalan? Fenomena tersebut sering disebut fear of missing out (FOMO). Investor melihat orang lain memperoleh keuntungan, lalu merasa harus segera ikut masuk tanpa terlebih dahulu memahami aset yang dibeli.

Masalahnya, kenaikan harga di masa lalu bukan jaminan bahwa harga akan terus naik. Salah satu perilaku yang dapat merugikan investor adalah terlalu berfokus pada kinerja masa lalu ketika mengambil keputusan investasi. Investor juga disarankan melakukan riset sendiri sebelum membeli sebuah investasi.

Misalnya, seseorang melihat harga sebuah saham naik 50 persen dalam beberapa bulan. Ia kemudian membeli saham tersebut karena menganggap kenaikan sebelumnya merupakan bukti bahwa harga akan terus naik. Padahal, ada banyak hal yang perlu diperiksa terlebih dahulu, seperti kondisi bisnis perusahaan, pendapatan, utang, valuasi, prospek industri, hingga risiko yang mungkin dihadapi.

Jika investor masuk setelah harga sudah melonjak tinggi dan kemudian sentimen pasar berubah, ia bisa mengalami kerugian ketika harga terkoreksi. Masalahnya bukan pada membeli aset yang sedang naik, melainkan membeli hanya karena aset tersebut sedang naik. Karena itu, sebelum ikut-ikutan, investor sebaiknya bertanya apa alasan fundamental membeli suatu aset. Kalau jawabannya hanya karena "banyak orang membelinya", mungkin keputusan tersebut perlu dipikirkan ulang.

2. Mengabaikan biaya karena merasa jumlahnya kecil

ilustrasi trading (Pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

Kesalahan kedua adalah menganggap biaya investasi tidak terlalu penting. Padahal, biaya yang terlihat kecil bisa menggerus hasil investasi jika terjadi berulang kali atau berlangsung dalam jangka panjang. Biaya investasi dapat berupa biaya transaksi, biaya pengelolaan, komisi, sales load, biaya administrasi, hingga biaya lain yang melekat pada produk atau layanan investasi.

Biaya dan pengeluaran investasi dapat mengurangi jumlah uang dalam portofolio yang sebenarnya bisa terus menghasilkan imbal hasil. Bahkan, perbedaan biaya yang terlihat kecil dapat menghasilkan perbedaan nilai portofolio yang cukup besar dalam jangka panjang. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, bukan hanya performa aset saja.

3. Menaruh terlalu banyak uang pada satu aset

ilustrasi investasi (Pexels.com/Kaushal Moradiya)

Kesalahan berikutnya adalah terlalu percaya diri terhadap satu investasi. Misalnya, seseorang sangat yakin terhadap prospek sebuah saham. Karena merasa saham tersebut akan memberikan keuntungan besar, sebagian besar portofolionya ditempatkan di saham tersebut.

Ketika harga saham naik, strategi itu memang terlihat berhasil. Masalahnya muncul ketika harga justru jatuh. Jika sebagian besar uang berada pada aset yang sama, penurunan harga aset tersebut dapat memberikan dampak besar terhadap keseluruhan portofolio.

Inilah alasan diversifikasi menjadi salah satu prinsip penting dalam investasi. Diversifikasi berarti menyebarkan investasi ke berbagai aset untuk mengurangi risiko keseluruhan portofolio. Alokasi aset yang tepat juga bergantung pada tujuan investasi, jangka waktu, dan toleransi risiko masing-masing investor.

Membeli aset hanya karena sedang ramai bisa membuat investor masuk tanpa memahami risikonya. Mengabaikan biaya dapat mengurangi keuntungan yang seharusnya diterima. Sementara itu, portofolio yang terlalu terkonsentrasi dapat membuat satu penurunan harga berdampak besar terhadap seluruh investasi. Dengan memahami risiko, biaya, dan cara mengelola portofolio, investor memiliki peluang lebih baik untuk menghindari keputusan yang membuat investasi justru berakhir boncos.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article