Pernah melihat barang yang awalnya biasa saja, tetapi tiba-tiba menjadi mahal setelah sulit ditemukan? Fenomena ini cukup sering terjadi pada barang koleksi. Dalam ekonomi dan psikologi konsumen, fenomena ini berkaitan dengan scarcity effect atau efek kelangkaan. Keterbatasan ketersediaan dapat meningkatkan persepsi konsumen terhadap nilai dan daya tarik sebuah produk. Berbagai bentuk kelangkaan umumnya dapat meningkatkan perceived value, desirability, dan niat membeli, meski efeknya berbeda tergantung jenis produk dan situasinya. Simak penjelasan selengkapnya dalam artikel berikut!
Mengapa Produk yang Sulit Didapat Justru Terasa Lebih Berharga?

1. Barang langka terasa lebih eksklusif
Ada dua photocard idol Korea dengan desain yang sama-sama menarik. Photocard pertama masih mudah ditemukan di banyak toko dan marketplace. Sementara photocard kedua hanya muncul sesekali karena sudah tidak lagi diproduksi. Mana yang kemungkinan terasa lebih spesial? Bagi sebagian kolektor, photocard kedua mungkin memiliki daya tarik lebih besar karena jumlahnya terbatas.
Hal ini berkaitan dengan persepsi eksklusivitas. Ketika suatu produk tidak mudah dimiliki semua orang, produk tersebut dapat memberikan kesan lebih unik atau istimewa. Kelangkaan dalam jumlah tertentu dapat meningkatkan persepsi keunikan dan status sosial, yang kemudian mendorong ketertarikan konsumen terhadap produk. Itulah mengapa label seperti “limited edition” sering digunakan dalam pemasaran.
Bukan sekadar karena jumlah barangnya sedikit, tetapi karena keterbatasan tersebut dapat membuat produk terasa berbeda dari barang yang tersedia secara massal. Dalam dunia koleksi, efek ini bisa semakin kuat. Memiliki photocard yang dimiliki oleh banyak orang tentu memberikan pengalaman berbeda dengan memiliki photocard yang hanya dimiliki oleh sedikit kolektor.
2. Semakin sulit mendapatkannya, semakin besar rasa ingin memilikinya
Objek yang tersedia secara terbatas kerap dinilai lebih bernilai dan menarik dibandingkan objek yang tersedia melimpah. Menariknya, objek yang awalnya tersedia banyak kemudian menjadi langka juga mendapatkan penilaian lebih tinggi dibandingkan objek yang sejak awal selalu langka.
Fenomena tersebut mudah ditemukan dalam pasar barang koleksi. Misalnya, seorang penggemar sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan sebuah photocard ketika pertama kali melihatnya. Namun, setelah mengetahui bahwa photocard tersebut semakin sulit ditemukan, ia mulai mencarinya. Bukan karena fungsi barangnya berubah, melainkan karena kesempatan untuk memilikinya terasa semakin terbatas. Inilah salah satu alasan mengapa kelangkaan dapat memengaruhi perilaku konsumen.
3. Nilai barang bukan hanya ditentukan oleh biaya produksinya
Kalau hanya melihat bahan dan biaya produksinya, sebuah photocard mungkin tidak memiliki nilai yang tinggi. Namun, harga barang di pasar tidak selalu ditentukan oleh biaya pembuatannya. Ada faktor lain yang ikut memengaruhi, salah satunya adalah seberapa besar orang bersedia membayar untuk mendapatkannya.
Inilah yang berkaitan dengan konsep perceived value atau nilai yang dirasakan konsumen. Bagi orang yang bukan penggemar K-pop, sebuah photocard mungkin hanya terlihat seperti kartu bergambar. Namun, bagi kolektor, photocard tersebut bisa memiliki nilai emosional, nilai kelangkaan, nilai sejarah, atau keterkaitan dengan momen tertentu dalam perjalanan mereka sebagai penggemar. Karena itu, dua orang dapat memberikan penilaian yang sangat berbeda terhadap barang yang sama.
Jadi, apakah barang langka selalu lebih berharga? Tidak juga. Kelangkaan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi persepsi nilai, tetapi bukan satu-satunya.
Harga sebuah barang koleksi juga dapat dipengaruhi oleh popularitas, kondisi barang, jumlah permintaan, reputasi merek atau figur yang terkait, sejarah barang, serta kemampuan dan kemauan pembeli untuk membayar. Jadi, bukan berarti “semakin langka, pasti semakin mahal.” Yang lebih tepat adalah kelangkaan dapat membuat sebuah produk terasa lebih eksklusif dan meningkatkan perceived value, terutama ketika produk tersebut memang memiliki permintaan.
Curated For You
- [INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial 09 Sep 2026, 13:52 WIB
- Penegakan Hukum Keracunan MBG Dipertanyakan, 11 Tokoh Bersuara21 Sep 2026, 07:00 WIB