Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Pergerakan Bitcoin Mengarah ke Crash di 2026? Ini Analisisnya
Ilustrasi bitcoin (freepik.com)
  • Bitcoin mengalami fluktuasi tajam di 2026 setelah rekor tertinggi 126 ribu dolar, memicu perdebatan antara investor optimistis dan yang khawatir akan potensi penurunan lebih dalam.
  • Sebagian pakar menilai Bitcoin makin matang berkat adopsi institusional dan stabilitas pasar, dengan peluang kenaikan jika regulasi AS dan kondisi geopolitik global mendukung.
  • Namun, analis lain memperingatkan risiko penurunan hingga 10 ribu dolar karena minimnya katalis jangka pendek, sementara momentum besar baru diperkirakan muncul pada halving 2028.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah sempat mencetak rekor tertinggi di atas 126 ribu dolar pada akhir 2025, Bitcoin memasuki tahun 2026 dengan performa yang jauh lebih bergejolak. Nilainya sempat anjlok hingga sekitar 50 persen dari puncaknya, sebelum perlahan mengalami pemulihan.

Kondisi ini memunculkan dua kubu di kalangan investor: sebagian melihatnya sebagai peluang beli, sementara yang lain justru khawatir akan potensi kejatuhan yang lebih dalam. Sejumlah pakar investasi pun memberikan pandangan mereka terkait arah pergerakan Bitcoin sepanjang tahun ini. Berikut rangkuman analisisnya.

1. Skenario Bullish: Bitcoin dinilai semakin kuat

Ilustrasi bitcoin (freepik.com)

Meski sempat mengalami koreksi tajam, beberapa ahli menilai bahwa Bitcoin menunjukkan ketahanan yang cukup solid, bukan tanda kehancuran.

Marcel Thiess, CEO Thiess Invest, menyebut bahwa performa Bitcoin di 2026 mencerminkan kedewasaan pasar. Menurutnya, meningkatnya adopsi dari institusi besar membuat pergerakan harga tidak lagi didominasi investor ritel atau spekulan semata, melainkan oleh pasar yang lebih terstruktur.

Sementara itu, Igor Pejic, seorang strategi investasi teknologi, menilai bahwa kejatuhan besar di pasar kripto biasanya dipicu oleh faktor makroekonomi yang sulit diprediksi. Ia tidak melihat indikasi kuat adanya crash lanjutan dalam waktu dekat. Dari sisi likuiditas dan pelaku pasar, Bitcoin dianggap lebih stabil dibandingkan siklus sebelumnya.

Meski demikian, faktor pendorong kenaikan harga masih belum jelas. Thiess memperkirakan bahwa kepastian regulasi di Amerika Serikat serta stabilitas geopolitik global, termasuk di Timur Tengah, bisa menjadi katalis yang mendorong harga Bitcoin kembali menembus $100.000.

2. Skenario Bearish: Risiko penurunan masih mengintai

Ilustrasi risiko investasi (freepik.com)

Di sisi lain, tidak semua analis optimistis terhadap masa depan Bitcoin dalam waktu dekat. Vince Stanzione, penulis buku The Millionaire Dropout, menilai bahwa harga Bitcoin saat ini—yang berada di kisaran 70 ribu dolar, tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan beberapa tahun lalu.

Ia menyoroti bahwa berbagai sentimen positif, seperti persetujuan ETF di AS, kebijakan pemerintah yang lebih ramah kripto, hingga pendekatan regulator yang lebih longgar, belum mampu mendorong kenaikan harga yang berkelanjutan.

Bahkan, analis Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, memperingatkan bahwa Bitcoin berpotensi turun hingga 10 ribu jika gagal mempertahankan level penting di 75 ribu dolar.

Stanzione juga menambahkan bahwa katalis besar berikutnya kemungkinan baru akan datang pada peristiwa bitcoin halving di April 2028, yang secara historis sering diikuti oleh tren bullish. Hingga saat itu, ia belum melihat alasan kuat bagi investor untuk masuk ke pasar Bitcoin sekarang.

3. Potensi atau ancaman?

Ilustrasi bitcoin (freepik.com)

Pergerakan Bitcoin di 2026 menunjukkan dinamika yang semakin kompleks, berada di antara harapan besar dan kekhawatiran yang belum sepenuhnya mereda. Setelah sempat mengalami koreksi tajam dari level tertingginya, pasar mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan, meski belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan secara penuh.

Di satu sisi, meningkatnya adopsi institusional menjadi sinyal positif yang menandakan bahwa Bitcoin semakin matang sebagai aset investasi jangka panjang dan tidak lagi semata-mata digerakkan oleh spekulasi pasar ritel. Namun di sisi lain, minimnya katalis besar dalam waktu dekat, ditambah dengan tekanan dari kondisi makroekonomi global seperti inflasi, suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik, membuat prospek Bitcoin tetap diselimuti tanda tanya.

Situasi ini menempatkan investor pada posisi yang tidak mudah—antara melihat peluang di tengah penurunan harga atau justru bersikap lebih hati-hati menghadapi potensi risiko lanjutan. Oleh karena itu, memahami kedua sisi—baik potensi pertumbuhan maupun ancaman penurunan—menjadi hal yang sangat penting sebelum mengambil keputusan investasi.

Pada akhirnya, di tengah volatilitas yang tinggi, keputusan yang bijak bukan hanya soal kapan membeli atau menjual, tetapi juga tentang seberapa siap kamu menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di pasar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team