Meski muncul pertanyaan soal apakah investasi besar tersebut akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan, Arya tetap optimistis. Ia menyebut belanja besar Big Tech bersifat ofensif dan defensif sekaligus, karena perusahaan teknologi besar harus terus berinvestasi untuk mempertahankan dominasinya.
Nvidia, yang saat ini menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, dinilai Arya berada di “galaksi yang berbeda.”
Dengan saham Nvidia yang telah naik lebih dari 40 persen sepanjang tahun berjalan, Arya mengingatkan agar perusahaan tersebut tidak dibandingkan dengan produsen chip konvensional. Ia menyoroti perbedaan harga produk, di mana chip rata-rata dijual sekitar 2,40 dolar AS, sementara satu unit GPU Nvidia bisa mencapai sekitar 30.000 dolar AS.
“Valuasi bergantung pada sudut pandang masing-masing pihak,” ujar Arya.
BofA juga mencatat arus kas bebas Nvidia diproyeksikan mencapai sekitar 500 miliar dolar AS dalam tiga tahun ke depan. Dengan rasio PEG sekitar 0,6 kali, Nvidia dinilai relatif lebih murah dibandingkan indeks S&P 500 yang diperdagangkan mendekati 2 kali PEG.
Sementara itu, Broadcom disebut Arya sebagai “sistem saraf” AI, jika Nvidia dianggap sebagai “otak”. Dengan kenaikan saham lebih dari 50 persen sepanjang tahun dan kapitalisasi pasar sekitar 1,6 triliun dolar AS, Broadcom kini berperan penting dalam infrastruktur AI melalui chip custom ASIC untuk hyperscaler seperti Google dan Meta.