Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tanpa Beli Properti, 4 Negara Ini Tawarkan Izin Tinggal Lewat Deposito
ilustrasi Palawan, Filipina (unsplash.com/Jarno Colijn)
  • Empat negara—Ekuador, Mesir, Azerbaijan, dan Filipina—menawarkan izin tinggal lewat deposito tanpa perlu beli properti, dengan nilai investasi mulai sekitar Rp790 juta hingga Rp1,2 miliar.
  • Ekuador dan Filipina membuka peluang menuju permanent residency bahkan kewarganegaraan, sementara Mesir dan Azerbaijan lebih cocok untuk akses tinggal jangka panjang tanpa komitmen kewarganegaraan.
  • Skema ini menarik bagi yang ingin punya rencana cadangan di luar negeri karena prosesnya lebih sederhana dibanding golden visa berbasis properti bernilai tinggi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Punya izin tinggal di luar negeri sering dianggap hanya bisa didapat kalau kamu membeli rumah mahal atau investasi bisnis besar. Padahal, beberapa negara masih menawarkan jalur yang lebih sederhana, yaitu cukup menyimpan dana deposito di bank lokal.

Skema seperti ini menarik bagi orang yang ingin punya “plan B” di luar negeri tanpa repot mengurus properti. Selain itu, dana yang disetor umumnya tetap atas nama sendiri selama mengikuti aturan program.

Menariknya lagi, beberapa negara menawarkan nilai investasi yang relatif lebih rendah dibanding program golden visa berbasis properti. Meski begitu, setiap negara punya aturan, keuntungan, dan batasan berbeda yang tetap perlu kamu pertimbangkan sebelum memilih.

1. Ekuador tawarkan izin tinggal mulai sekitar Rp790 jutaan

ilustrasi Ecuador atau Ekuador (unsplash.com/Andres Medina)

Ekuador menjadi salah satu negara dengan syarat deposito paling rendah dalam daftar ini. Pada 2026, negara tersebut menetapkan syarat deposito sebesar 48.200 dolar AS atau sekitar Rp790 juta jika dikonversi ke rupiah saat ini. Dana itu harus ditempatkan di lembaga keuangan resmi di Ekuador dan dipertahankan selama izin tinggal masih aktif. Menariknya, Ekuador menggunakan dolar AS sebagai mata uang resmi sehingga risiko perubahan kurs relatif lebih stabil dibanding negara lain.

Program ini awalnya memberikan izin tinggal sementara selama dua tahun. Setelah itu, kamu bisa mengajukan permanent residency jika memenuhi syarat tinggal minimal 185 hari per tahun di Ekuador. Jalur menuju kewarganegaraan juga terbuka setelah beberapa tahun menjadi permanent resident. Namun, proses naturalisasi biasanya memakan waktu lebih lama karena antrean administrasi dan proses evaluasi tambahan.

2. Mesir punya opsi deposito sekitar Rp820 jutaan tanpa syarat tinggal minimum

ilustrasi Egypt atau Mesir (unsplash.com/Michael Rodock)

Mesir menawarkan salah satu program izin tinggal berbasis deposito yang cukup fleksibel. Untuk mendapatkan izin tinggal satu tahun yang bisa diperpanjang, kamu perlu menyimpan dana sebesar 50.000 dolar AS atau sekitar Rp820 juta di bank milik negara. Jika depositonya dinaikkan menjadi 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,64 miliar, izin tinggal yang diberikan bisa berlaku tiga tahun sekaligus. Selama deposito tetap aktif, izin tinggal tersebut dapat terus diperpanjang.

Keunggulan utama program Mesir adalah gak adanya syarat minimum tinggal di negara tersebut. Artinya, kamu gak wajib menetap selama beberapa bulan setiap tahun untuk mempertahankan status residensi. Namun, program ini gak memberikan jalur menuju permanent residency ataupun kewarganegaraan. Karena itu, skema Mesir lebih cocok untuk kamu yang hanya ingin punya akses tinggal jangka panjang tanpa target menjadi warga negara baru.

3. Azerbaijan cocok untuk diversifikasi tempat tinggal dengan deposito sekitar Rp960 jutaan

ilustrasi Azerbaijan (unsplash.com/Lloyd Alozie)

Azerbaijan menawarkan izin tinggal melalui deposito berjangka sebesar 100.000 manat Azerbaijan atau sekitar 58.800 dolar AS. Jika dikonversi ke rupiah, nilainya berada di kisaran Rp960 jutaan. Dana tersebut harus ditempatkan dalam bentuk deposito berjangka di bank lokal dan gak bisa ditarik bebas selama masa perjanjian berlangsung. Program ini memberikan status temporary residence yang dapat diperpanjang selama syarat deposito tetap dipenuhi.

Lokasi Azerbaijan yang berada di antara Eropa dan Asia membuat negara ini cukup menarik untuk diversifikasi tempat tinggal. Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu Azerbaijan gak mengizinkan kewarganegaraan ganda. Jadi, orang asing yang ingin menjadi warga negara Azerbaijan harus melepas kewarganegaraan asalnya. Karena alasan itu, banyak investor lebih memanfaatkan program ini sebagai izin tinggal alternatif, bukan jalur mendapatkan paspor kedua.

4. Filipina tawarkan permanent residency lewat deposito sekitar Rp1,2 miliar

ilustrasi Manila, Filipina (unsplash.com/Kristine Wook)

Filipina termasuk negara yang cukup menarik karena menawarkan permanent residency melalui deposito sebesar 75.000 dolar AS atau sekitar Rp1,23 miliar. Ada dua program utama yang tersedia, yaitu Special Investor’s Resident Visa (SIRV) dan FAB Investor Visa (FIV). Keduanya memungkinkan pemohon tinggal, bekerja, dan belajar di Filipina tanpa syarat minimum tinggal tahunan. Selain itu, pasangan dan anak tanggungan juga bisa dimasukkan ke dalam aplikasi tanpa tambahan investasi.

Meski nominal investasinya sama, proses kedua program ini cukup berbeda. SIRV dikenal jauh lebih cepat karena prosesnya bisa selesai dalam hitungan minggu, sedangkan FIV sering mengalami waktu tunggu lebih lama. Filipina juga membuka peluang naturalisasi setelah memenuhi syarat tinggal selama 10 tahun. Namun, aturan kewarganegaraan di sana pada dasarnya mengharuskan pemohon melepas kewarganegaraan lama jika ingin menjadi warga negara Filipina.

Program izin tinggal berbasis deposito memang semakin jarang ditemukan di dunia. Banyak negara kini lebih memilih skema investasi properti atau bisnis dengan nilai yang jauh lebih besar. Meski begitu, Ekuador, Mesir, Azerbaijan, dan Filipina masih menawarkan opsi yang relatif lebih terjangkau bagi orang yang ingin memiliki izin tinggal luar negeri tanpa membeli rumah.

Nominal investasinya memang tetap besar jika dihitung dalam rupiah, tapi masih lebih rendah dibanding banyak program golden visa lain. Karena itu, sebelum memilih program tertentu, kamu tetap perlu mempertimbangkan tujuan jangka panjang, kemampuan finansial, dan aturan imigrasi terbaru dari negara tujuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team