ilustrasi menghitung (pexels.com/Lukas)
Meningkatkan working capital merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan perusahaan agar operasional tetap berjalan stabil di tengah dinamika bisnis. Upaya ini tidak selalu harus ditempuh dengan menambah utang atau modal besar, melainkan dapat dimulai dari pengelolaan internal yang lebih efisien dan terukur. Dengan strategi yang tepat, perusahaan dapat memperkuat likuiditas sekaligus menjaga keberlanjutan keuangan dalam jangka panjang.
1. Mempercepat penagihan piutang usaha
Piutang usaha yang menumpuk dalam jangka waktu lama dapat menghambat perputaran kas perusahaan dan memperlemah kondisi working capital. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan kebijakan penagihan yang lebih tegas dan sistematis, seperti menetapkan jatuh tempo pembayaran yang jelas serta melakukan pengingat secara berkala kepada pelanggan. Dengan mempercepat proses penagihan, dana yang sebelumnya tertahan di piutang dapat segera digunakan kembali untuk membiayai operasional harian dan kebutuhan bisnis lainnya.
2. Meninjau ulang kebijakan pemberian kredit kepada pelanggan
Kebijakan kredit yang terlalu longgar berpotensi meningkatkan risiko piutang tak tertagih dan menekan modal kerja perusahaan. Perusahaan perlu melakukan evaluasi terhadap kelayakan kredit pelanggan berdasarkan riwayat pembayaran dan kondisi finansialnya. Dengan menerapkan seleksi kredit yang lebih ketat, arus kas dapat terjaga dan working capital menjadi lebih sehat.
3. Mengelola persediaan secara lebih efisien
Persediaan yang terlalu besar dapat mengikat dana dalam jumlah signifikan dan memperlambat perputaran modal kerja. Perusahaan perlu memahami tingkat stok optimal berdasarkan pola permintaan dan siklus penjualan. Pengelolaan inventaris yang efisien membantu menekan biaya penyimpanan sekaligus membebaskan dana yang dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain.
4. Menegosiasikan ulang syarat pembayaran dengan pemasok
Negosiasi ulang dengan pemasok dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan fleksibilitas arus kas perusahaan. Dengan memperpanjang jangka waktu pembayaran tanpa melanggar kesepakatan, perusahaan memiliki ruang lebih luas dalam mengelola dana operasional. Namun, strategi ini tetap harus dilakukan secara profesional agar hubungan bisnis jangka panjang tetap terjaga.
5. Menyusun dan menjalankan anggaran secara disiplin
Perencanaan anggaran yang matang membantu perusahaan mengendalikan pengeluaran dan menghindari pemborosan. Dengan anggaran yang realistis dan terukur, manajemen dapat memprioritaskan penggunaan dana untuk kebutuhan yang paling mendesak. Disiplin anggaran berperan penting dalam menjaga kestabilan working capital.
6. Mengoptimalkan siklus konversi kas
Siklus konversi kas menunjukkan seberapa cepat modal kerja berubah kembali menjadi kas. Semakin singkat siklus ini, semakin baik kondisi likuiditas perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengelola piutang, persediaan, dan utang usaha secara seimbang agar perputaran kas berjalan optimal.
7. Mengurangi biaya operasional yang tidak produktif
Biaya operasional yang tidak memberikan nilai tambah dapat membebani keuangan perusahaan dan mengurangi working capital. Manajemen perlu melakukan evaluasi rutin terhadap struktur biaya untuk mengidentifikasi pengeluaran yang bisa ditekan. Efisiensi operasional akan membuat penggunaan modal kerja menjadi lebih optimal.
8. Mengelola utang jangka pendek secara bijak
Utang jangka pendek dapat membantu menutup kebutuhan modal kerja sementara, tetapi penggunaannya harus direncanakan dengan hati-hati. Perusahaan perlu memastikan kemampuan membayar utang sesuai jadwal agar tidak menimbulkan tekanan likuiditas. Pengelolaan utang yang bijak membantu menjaga keseimbangan antara kewajiban dan aset lancar.
9. Memanfaatkan indikator kinerja utama (KPI) keuangan
Penggunaan indikator kinerja utama membantu perusahaan memantau efektivitas pengelolaan working capital. Rasio seperti days sales outstanding dan cash conversion cycle memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi arus kas. Dengan data ini, manajemen dapat mengambil keputusan berbasis analisis yang lebih akurat.
10. Mengevaluasi sumber pendanaan modal kerja secara berkala
Sumber pendanaan modal kerja perlu dievaluasi secara rutin agar tetap sesuai dengan kondisi bisnis. Perusahaan dapat membandingkan berbagai opsi pembiayaan untuk memilih yang paling efisien dari segi biaya dan risiko. Evaluasi berkala membantu perusahaan menjaga working capital tetap sehat dan berkelanjutan.
Berbagai langkah peningkatan working capital tersebut perlu diterapkan secara konsisten dan terintegrasi dalam strategi keuangan perusahaan. Evaluasi berkala menjadi kunci agar setiap kebijakan tetap relevan dengan kondisi bisnis yang terus berubah. Dengan pengelolaan yang tepat, working capital dapat menjadi penggerak utama stabilitas dan pertumbuhan usaha.
Pada akhirnya, working capital bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, melainkan representasi nyata dari kesehatan operasional sebuah bisnis. Pemahaman yang komprehensif mengenai pengertian, tujuan, jenis, hingga strategi peningkatannya akan membantu perusahaan menjaga likuiditas dan stabilitas keuangan. Dengan modal kerja yang dikelola secara optimal, peluang pertumbuhan bisnis pun dapat terbuka lebih luas dan berkelanjutan.