Di ruang sunyi rumah sakit,
dokter menyebut angka yang asing di telinga:
trisomi 21,
sebuah takdir yang menyulam harapan dengan cemas.
Air mata jatuh, bukan karena kecewa,
tapi karena takut tak mampu menjaga dunia
bagi sepasang mata bening
yang lahir membawa cahaya berbeda.
Hari-hari panjang menjelma ujian,
tertatih belajar sabar
ketika langkah kecilmu lambat,
ketika kata-katamu harus dipetik
satu per satu,
bagai bunga yang baru belajar mekar.
Namun, setiap senyummu
adalah Matahari yang menyingkirkan duka,
tawa polosmu meruntuhkan tembok resah,
dan pelukanmu
mengajarkan arti cinta tanpa syarat.
Kami belajar, Anakku,
bahwa istimewa bukan berarti kurang,
bahwa perjuangan bukan beban,
melainkan jalan pulang
menuju hati yang lebih luas.
Trisomi 21 bukan kutuk,
melainkan bahasa rahasia Tuhan
yang berkata:
“Di balik gen yang berbeda,
Aku titipkan jiwa murni
untuk menguji seberapa besar kasihmu.”
Dan kami akan terus berjalan,
bersamamu,
menggenggam hari-hari rapuh,
mengubah setiap tantangan
menjadi doa dan pelukan.
Karena engkau
adalah anugerah yang tak terhitung,
adalah alasan kami belajar arti hidup
lebih dalam dari siapa pun.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Anakku, Trisomi 21
![[PUISI] Anakku, Trisomi 21](https://image.idntimes.com/post/20250906/ilustrasi-bayi_02cb13e0-81d3-4e16-bc82-02b10a4a0564.jpg)
ilustrasi bayi (unsplash.com/Omar Lopez)
Take a Deeper Read
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- Perempuan Penggerak Koperasi Tangguh di Tepi Rel20 Oct 2026, 09:20 WIB
- [PUISI] Sandal Renta01 Sep 2025, 05:04 WIB
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- [PUISI] Logika di Tengah Tanya02 Sep 2025, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Hutan Mengabu dan Burung Tak Bersuara24 Oct 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Cahaya di Balik Kesedihan24 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Rapat Darurat di Dalam Kepala24 Oct 2026, 17:07 WIB
[PUISI] Rintik yang Pulang Setelah Penantian24 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Janji Manis Dewa Petir yang Menyambar Kewarasan24 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Bangku Tua di Ujung Taman23 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Asa Berperi23 Oct 2026, 20:07 WIB
[PUISI] Bencana di Balik Angka23 Oct 2026, 18:07 WIB
[PUISI] Jendela yang Selalu Terbuka23 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Anak Kecil Itu Sudah Mati23 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Melodi yang Kehabisan Kata22 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Juang Tanpa Henti22 Oct 2026, 20:17 WIB
[PUISI] Figuran Tanpa Nama22 Oct 2026, 10:07 WIB
[PUISI] Mengukir Luka Baru22 Oct 2026, 08:18 WIB
[PUISI] Sungai yang Tidak Melawan Batu22 Oct 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Ketika Sarang Menjadi Abu22 Oct 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Tetaplah Jatuh Cinta Walau Negara Porak-Poranda22 Oct 2026, 01:10 WIB
[PUISI] Asap Kalimantan dan Wajah-Wajah yang Berpaling22 Oct 2026, 00:19 WIB
[PUISI] Terima Kasih Hidup21 Oct 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Benar Pada Akhirnya21 Oct 2026, 20:07 WIB