Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Ayah Mengapa Kau Tiada
Ilustrasi penyesalan kehilangan seorang ayah. (Pixabay.com/StockSnap)
  • Puisi menggambarkan penyesalan seorang anak yang dahulu mengabaikan kehadiran ayah, meski sang ayah selalu nyata dan memenuhi berbagai kebutuhannya.
  • Tokoh aku mengakui hanya fokus pada permintaan dan pemberian ayah, tanpa pernah menanyakan kelelahan, mendengar keluhan, atau menghitung pengorbanannya.
  • Kesadaran atas besar usaha dan perjuangan ayah datang terlambat, memunculkan keinginan untuk memeluknya erat dan mengucapkan terima kasih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ayah mengapa kau tiada
Dahulu kau seolah-olah tak ada
Manakala kau yang paling nyata
Dan yang selalu ada
Justru aku abai akan hadirmu

Aku sibuk meminta banyak
Kau sibuk memenuhi semuanya
Tak pernah kutanya lelahmu
Tak pernah kudengar keluhmu
Hanya egoku yang berbicara

Aku hitung pemberianmu
Tak pernah kuhitung pengorbananmu
Kupikir itu biasa saja
Betapa sempit pikirku
Kini semua terlambat

Andai waktumu menungguku
Kan kupeluk pundakmu erat
Kan kuucapkan terima kasih
Ayah mengapa kau tiada
Ketika aku sadar besarnya usaha dan perjuanganmu

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team