Ada biru tinggal di langit petang,
tenang wajahnya, dalamnya memandang.
Tak mampu kata menyusun terang,
sebab rasanya terlalu datang.
Biru itu jatuh di mata hujan,
mengalir pelan bersama kenangan.
Seperti rindu tanpa tujuan,
diam-diam tumbuh dalam ingatan.
Kadang ia hadir di laut sunyi,
membawa sepi yang terasa abadi.
Tak berteriak, tak pula pergi,
namun menetap di dalam hati.
Dan ketika malam mulai luruh,
biru itu masih tampak utuh.
Menjadi rasa yang tak menyentuh,
namun mampu membuat jiwa runtuh.
![[PUISI] Biru yang Tak Bisa Dijelaskan](https://image.idntimes.com/post/20260507/pexels-aj4xo-33127423_1b484f7b-0db0-4bb1-b042-ede144abd138.jpg)