Cangkir biru itu masih setia di sudut meja
Menampung segala tanya yang tak kunjung usai
Ia saksi bisu saat senja jatuh di ujung jari
Dan kau menuang luka menjadi teguk yang pahit
Ada warna laut yang melekat di pori-porinya
Mengingatkan pada ombak yang tak pernah kembali
Kau genggam hangatnya, seolah ingin memeluk
Semua kenangan yang dingin dan mulai menguap
Suatu pagi, kau temukan ia retak di bibirnya
Sebuah garis tipis, seperti senyum yang kau paksakan
Namun kau tetap menuang harapan ke dalamnya
Berharap ia tak bocor, tak juga pecah
Cangkir biru itu kini lebih dari sekadar benda
Ia adalah ruang di mana hati belajar sembunyi
Dan setiap kali kau teguk yang tersisa
Kau sadar, yang manis selalu meninggalkan endapan
![[PUISI] Cangkir Biru](https://image.idntimes.com/post/20260216/photo-1508791737489-5345d1c2059d_5dda5c78-92af-45a4-ba19-dc08572d3faa.jpeg)