Malam turun seperti tinta
yang ditumpahkan perlahan
di atas halaman kota.
Lampu-lampu menyala
seperti bintang yang dipaksa lahir
di langit buatan manusia.
Jalanan bernafas panjang,
mengalirkan langkah-langkah
yang tidak pernah benar-benar pulang.
Di sudut trotoar
seorang penjual kopi
menuangkan hangat
ke dalam cangkir-cangkir lelah.
Gedung-gedung berdiri tegak,
diam seperti saksi
yang terlalu banyak tahu
tentang mimpi yang gagal.
Di antara klakson
dan percakapan yang tercecer,
ada hati-hati kecil
yang diam-diam bertanya:
apakah hidup
hanya tentang berlari
dari pagi ke malam
dari malam ke pagi?
Namun kota tidak menjawab.
Ia hanya terus menyala,
seperti mata yang menolak terpejam
meski dunia
sudah sangat lelah.
![[PUISI] Di Sudut Trotoar Kota](https://image.idntimes.com/post/20260316/pexels-josh-willink-11499-69099_b7ffbd20-8497-4ca5-9635-f082e3581135.jpg)