Inilah aku
Yang pergi, lalu kembali
Yang sekejap tertawa, lalu menangis
Yang bibirnya diam, tapi kepalanya riuh
Inilah aku
Nyaris utuh, tapi selalu kurang
Retak kecil di banyak sudut
Tampak sederhana, nyatanya rumit
Tahukah kau?
Aku pandai menghidupkan yang tak ada
Dan sering menghapus yang nyata
Terjaga, tapi kerap luput
Dengan ribuan jejak
Masalah dan sisa-sisa masa lalu
Masih adakah yang mau menerimaku
Ikhlas, bersama cacatku?
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Ikhlas Bersama Cacatku

ilustrasi dua tangan saling meraih (pexels.com/Taryn Elliott)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us