Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Jakarta Bukan Kasih Sayang
ilustrasi Jakarta pada malam hari (pexels.com/Afif Ramdhasuma)

Selepas petang, kita sempat berbagi bincang
Lihatlah, aku tak paham cara membujuk genangan di bawah matamu
Erat sekali genggamanmu, enggan melihatku terbanting ke depan
Namun waktu adalah kompas dan aku memilih terseret bersama liarnya arus angin

Fana tentangmu sudah jauh dibuang dalam palung terdalam
Meski terkadang, aku melihat jiwamu memberontak mencapai dasar
Bersama mekarnya panel hangat, aku di ambang hilang
Dan malam, ia akan datang menggigiti tubuhku

Aku tidak lari dari dekapanmu
Hanya saja ada nilai tukar untuk sebuah ambisi
Nyatanya, ini bukan lakon untuk dipertontonkan
Selepas sesaknya di arah selatan kota, pastikan janjiku kau temukan

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team