Selepas petang, kita sempat berbagi bincang
Lihatlah, aku tak paham cara membujuk genangan di bawah matamu
Erat sekali genggamanmu, enggan melihatku terbanting ke depan
Namun waktu adalah kompas dan aku memilih terseret bersama liarnya arus angin
Fana tentangmu sudah jauh dibuang dalam palung terdalam
Meski terkadang, aku melihat jiwamu memberontak mencapai dasar
Bersama mekarnya panel hangat, aku di ambang hilang
Dan malam, ia akan datang menggigiti tubuhku
Aku tidak lari dari dekapanmu
Hanya saja ada nilai tukar untuk sebuah ambisi
Nyatanya, ini bukan lakon untuk dipertontonkan
Selepas sesaknya di arah selatan kota, pastikan janjiku kau temukan
![[PUISI] Jakarta Bukan Kasih Sayang](https://image.idntimes.com/post/20260513/1000072724_7034b90c-6c11-46fa-80ad-615f2fde1ada.jpg)