Rimba menjerit di dada Bumi
Suaranya retak seperti kaca langit yang pecah,
Akar-akar menggigil memeluk tanah yang sekarat
Daun-daun berdoa dengan bahasa gugur yang pilu
Kapak berlagu di nadi pepohonan
Nada besinya tajam mencabik sunyi
Setiap ayunan adalah tanda tanya
Tak pernah sempat dijawab burung-burung pulang
Sungai menangis dengan mata keruh,
Airnya menua sebelum waktunya
Ia membawa kisah luka di punggung arus
Tentang rumah yang dilucuti tanpa pamit
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Jeritan Rimba
![[PUISI] Jeritan Rimba](https://image.idntimes.com/post/20250318/1000290327-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-7ca517706c2852e1bf77381007fadf17.jpg)
ilustrasi berjalan di hutan (pexels.com/Ali Kazal)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us