Aku sibuk menyiram
tanah yang gersang
Berharap bunga akan tumbuh
dari sisa-sisa luka
yang kau tanam

​Selama ini aku memupuk sabar
di atas retakan-retakan janji
Mengira bahwa warna yang pudar
bisa kembali jika aku tetap di sini

Namun, tanganku mulai lepuh
memegang cangkul yang kau patahkan
Aku mencintai hingga rapuh
saat kau sibuk menghancurkan

Kini aku sadar
Matahari takkan cukup
jika kau adalah hujan
yang justru menenggelamkan

Aku harus mencabut diriku sendiri
sebelum akarku mati
di tempat yang tak pernah
membiarkanku mekar