Aku bersiap menjemput hari
Di meja, secangkir teh telah menanti
Diseduh ibu sepagi ini
Hangatnya masih menyimpan namaku
Sejak kecil hingga dewasa
Ia selalu setia di sana
Rasanya tak pernah benar-benar sama
Dengan teh mana pun di dunia
Barangkali hanya teh dan air mendidih
Namun jemarinya memberi arti
Ritual kecil yang hadir lirih
Selalu datang tanpa pamrih
Namun membayangkan ibu tiada
Dadaku dipenuhi gelisah
Bisakah ibu abadi selamanya
Menyeduhkan pagi di atas meja?
Jika kelak cangkir itu kosong
Dan sudut meja menjadi sunyi
Apakah saat itu telah tiba
Aku harus melangkah tanpa ibu tercinta?
![[PUISI] Jika Cangkir Itu Kosong](https://image.idntimes.com/post/20260714/pexels-busranur-aydin-3800407-28606789_18175b2e-89f9-4cbc-a2f5-624f476bdf55.jpg)