Sekiranya waktu sudi menukar arah putarnya
Andai kata jagat rela mengembalikan musim yang telah tiada
Dan bilamana semesta sanggup mengingkari titah takdirnya
Niscaya rindu tak perlu bertakhta di singgasana duka

Pada mula sepasang netra bersua sepasang cahaya
Tanpa aba-aba, tanpa firasat, tanpa isyarat semesta
Hanya desir yang menjelma gemuruh dalam dada
Milik seorang belia yang jatuh tanpa kata

Lelaki itu menjulang bagai cemara di tepi senja
Berparas teduh, berhidung tegas, berbibir semerah fajar mula
Sedang aku sekadar langit yang setia berjaga
Tempat sepasang matanya terbit tiap kali ia bersua

Tak pernah kutemukan nama yang pantas untuknya
Bukan kawan, bukan kekasih, bukan pula sekadar cerita
Ia adalah jeda yang menggantung tanpa batas dan tanpa nama
Di antara segala definisi yang gagal merangkumnya

Musim demi musim berlalu mengikis usia
Namun, tak kunjung mengikis arah pandang mata
Setiap langkah menjauh selalu dipatahkan semesta
Setiap niat melupa dipertemukan kembali jua

Barangkali takdir memang gemar bercanda
Menyulam ironi di atas kain segala harapan dan doa
Hingga suatu hari, langit kehilangan satu bintangnya
Bumi kehilangan satu napas, aku kehilangan segala rencana

Sejak itu, waktu tak lagi menjelma penyembuh luka
Ia hanya menjadi pengarsip yang telaten dan setia
Menyimpan tiap detik agar terus hidup dalam kepala
Empat putaran Matahari berlalu tanpa jeda

Namun, ingatan tak pernah mengenal kalender masa
Ia mekar tiap kali sunyi menyebut namanya
Pernah kutitipkan hati pada pelabuhan-pelabuhan lain di dunia
Namun, tiap dermaga hanya mengajarkan luka serupa

Bahwa laut pertama tak pernah benar-benar surut airnya
Bukan aku enggan melangkah menuju babak baru dan cerita
Bukan pula aku memilih menetap dalam duka
Aku hanya belum temukan tatapan sedalam kehilanganmu semata

Maka biarlah namamu perlahan disimpan sang waktu
Biarlah pusaramu ditumbuhi lumut dan sepi yang syahdu
Sebab, kematian hanya menutup raga, bukan menutup rindu
Ada manusia yang selesai hidupnya, tetapi tak selesai dicintai olehku