[PUISI] Dermaga yang Tak Pernah Kutemukan Penggantinya
![[PUISI] Dermaga yang Tak Pernah Kutemukan Penggantinya](https://image.idntimes.com/post/20260713/192520_172fe0f2-8bd0-4819-8bea-14609914858c.jpg)
Sekiranya waktu sudi menukar arah putarnya
Andai kata jagat rela mengembalikan musim yang telah tiada
Dan bilamana semesta sanggup mengingkari titah takdirnya
Niscaya rindu tak perlu bertakhta di singgasana duka
Pada mula sepasang netra bersua sepasang cahaya
Tanpa aba-aba, tanpa firasat, tanpa isyarat semesta
Hanya desir yang menjelma gemuruh dalam dada
Milik seorang belia yang jatuh tanpa kata
Lelaki itu menjulang bagai cemara di tepi senja
Berparas teduh, berhidung tegas, berbibir semerah fajar mula
Sedang aku sekadar langit yang setia berjaga
Tempat sepasang matanya terbit tiap kali ia bersua
Tak pernah kutemukan nama yang pantas untuknya
Bukan kawan, bukan kekasih, bukan pula sekadar cerita
Ia adalah jeda yang menggantung tanpa batas dan tanpa nama
Di antara segala definisi yang gagal merangkumnya
Musim demi musim berlalu mengikis usia
Namun, tak kunjung mengikis arah pandang mata
Setiap langkah menjauh selalu dipatahkan semesta
Setiap niat melupa dipertemukan kembali jua
Barangkali takdir memang gemar bercanda
Menyulam ironi di atas kain segala harapan dan doa
Hingga suatu hari, langit kehilangan satu bintangnya
Bumi kehilangan satu napas, aku kehilangan segala rencana
Sejak itu, waktu tak lagi menjelma penyembuh luka
Ia hanya menjadi pengarsip yang telaten dan setia
Menyimpan tiap detik agar terus hidup dalam kepala
Empat putaran Matahari berlalu tanpa jeda
Namun, ingatan tak pernah mengenal kalender masa
Ia mekar tiap kali sunyi menyebut namanya
Pernah kutitipkan hati pada pelabuhan-pelabuhan lain di dunia
Namun, tiap dermaga hanya mengajarkan luka serupa
Bahwa laut pertama tak pernah benar-benar surut airnya
Bukan aku enggan melangkah menuju babak baru dan cerita
Bukan pula aku memilih menetap dalam duka
Aku hanya belum temukan tatapan sedalam kehilanganmu semata
Maka biarlah namamu perlahan disimpan sang waktu
Biarlah pusaramu ditumbuhi lumut dan sepi yang syahdu
Sebab, kematian hanya menutup raga, bukan menutup rindu
Ada manusia yang selesai hidupnya, tetapi tak selesai dicintai olehku
![[PUISI] Melangkah tanpa Menoleh](https://image.idntimes.com/post/20241013/ana-gabriel-z7bg-pjf7se-unsplash-f96a2f31398211c36c1d614d2c908814-af8ffa86d5575f969cae8c35449e150a.jpg)
![[PUISI] Tidur untuk Besok](https://image.idntimes.com/post/20260606/annie-spratt-mtbsjmc4rt0-unsplash_1526f621-1e12-4535-b0c1-647f24f5ed35.jpg)
![[PUISI] Diri yang Sedang Mencoba](https://image.idntimes.com/post/20260227/pexels-atahandemir-15556137_d33d6431-e2b6-4b6d-bcbd-6b363dbd46fd.jpg)
![[PUISI] Bukan Aku yang Kau Tuju](https://image.idntimes.com/post/20260607/benjamin-voros-69mcb1k5dwg-unsplash_168b954b-367e-4698-ba2f-f8048022171e.jpg)
![[PUISI] Harap yang Datang Terlambat](https://image.idntimes.com/post/20260709/pexels-karola-g-5202544_cab9630a-a44b-421d-81a9-93c00daf25f4.jpg)
![[PUISI] Menjaga Letupan yang Mengeja Rasa](https://image.idntimes.com/post/20260708/pexels-edgarcolomba-2240263_1c96858b-4a61-49d4-be8c-10616e5d9e2d.jpg)
![[PUISI] Wajah-wajah Dingin](https://image.idntimes.com/post/20260711/pexels-nazar-aslan-443954785-29528711_ff39145a-6861-43e1-8da1-b76140699ba0.jpg)
![[PUISI] Memberi Celah](https://image.idntimes.com/post/20260410/lamsong4141-yx6-os9exeq-unsplash_3e2f13b7-e13c-43ea-8c00-dcca9d625a59.jpg)
![[PUISI] Bersekutu dengan Hujan](https://image.idntimes.com/post/20250808/pexels-pixabay-268791_d3daf217-8926-4ee5-9d92-ea401c77ee0c.jpg)
![[PUISI] Langit yang Lupa Berwarna](https://image.idntimes.com/post/20260707/1000124323_90590009-b993-47fd-a0b2-27820fea416c.jpg)
![[PUISI] Rantai Kerah Metropolis](https://image.idntimes.com/post/20260626/designer-work-office_0d4c23bc-49f5-468c-bce9-57f586993565.jpg)
![[PUISI] Menjaga Letupan Kala Mengeja Rasa](https://image.idntimes.com/post/20260708/pexels-delot-19714127_357197c7-716e-4804-bf0e-e5aabf885b5c.jpg)
![[PUISI] Memilih Berjarak](https://image.idntimes.com/post/20260711/img_5626_ebeac1c8-444d-44da-ac97-59ef7876c857.jpeg)
![[PUISI] Berteman dengan Sepi](https://image.idntimes.com/post/20260707/1000124304_d31063b0-419b-4d8e-9e48-fee260f85381.jpg)
![[PUISI] Sebelum Matahari Terjaga](https://image.idntimes.com/post/20260629/pexels-sippakorn-yamkasikorn-1745809-3421998_933e7937-93c2-4420-bc0b-b83dc56fb6b1.jpg)
![[PUISI] Laut yang Menyimpan Rahasia](https://image.idntimes.com/post/20260704/pexels-vanngo-ng-105653827-17730088_8cbb3920-a7ad-48c4-81eb-d5e8cc032cb1.jpg)
![[PUISI] Berhenti Memaksa](https://image.idntimes.com/post/20260420/pexels-garonpiceli-852793_16a07486-40c1-4ff3-bd1c-a2d2279ecc28.jpg)
![[PUISI] Saat Angin Berubah Arah](https://image.idntimes.com/post/20260710/pexels-rinoadamo-35363811_ef86041e-192c-485f-8435-1642e111a285.jpg)
![[PUISI] Di Bawah Rumah Pohon](https://image.idntimes.com/post/20260701/pexels-fabioandresfotografia-34748266_e5735529-b22b-43c3-9428-7e60f2ddcf8f.jpg)
![[PUISI] Sang Fakir](https://image.idntimes.com/post/20230713/pexels-mart-production-8078496-d970b9a19a754cc9ecd9f9b6f7df74c6-61cf0b70038bc7a59831c2fedf4fe1a4.jpg)