Kepada Ramadan,
aku titipkan lelah yang panjang,
pada malam yang paling tenang,
agar ia luruh bersama ampunan.
Kau tahu,
Ramadan selalu pandai menenangkan resah,
ia datang tanpa pamer cahaya,
tetapi hangatnya tinggal lama di dada.
Di antara sahur dan doa yang lirih,
aku belajar menahan yang berlebih,
bukan hanya lapar yang perih,
tapi juga hati yang sering rapuh dan berselisih.
Kepada Ramadan,
aku belajar pulang dengan perlahan:
meminta maaf,
melepaskan dendam,
meski ego sering ingin bertahan.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Kepada Ramadan

ilustrasi perempuan berdoa (pexels.com/zeynep sude emek)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us