Kota bangun dari bunyi-bunyi,
dari pintu yang terbuka tergesa,
dari langkah-langkah yang mengejar pagi
dan wajah-wajah yang menyimpan arah.
Di antara gedung yang meninggi,
manusia belajar menjadi angka.
Trotoar menampung ribuan cerita,
sebagian datang membawa harapan,
sebagian lain memanggul hari
yang terlalu berat untuk disebut beban.
Kita berpapasan setiap waktu,
namun tak selalu sempat menjadi manusia.
Di lampu merah,
seorang anak menjual tisu kepada kaca-kaca tertutup.
Di balik kaca, seseorang menghitung waktu
sementara di luar, seseorang menghitung sisa.
Kota terus berganti warna,
tetapi tak semua mata sempat melihatnya.
Barangkali kota bukan bangunan,
melainkan cara kita memperlakukan
mereka yang berjalan lebih lambat.
Sebab jalan yang panjang
tidak pernah benar-benar milik mereka
yang tiba lebih dahulu.
Maka biarkan jalan-jalan ini belajar,
bahwa langkah bukan hanya tentang sampai.
Ada tangan yang perlu digenggam,
ada suara yang perlu didengar,
ada manusia yang hanya ingin dianggap ada
di tengah kerumunan yang begitu sibuk.
Dan jika kelak kota ini bertambah tinggi,
semoga hatinya tidak semakin rendah.
Sebab sebuah kota baru benar-benar tumbuh
bukan ketika gedungnya menyentuh langit,
melainkan ketika setiap orang di dalamnya
tak lagi merasa berjalan sendirian.
![[PUISI] Kota yang Belajar Berjalan](https://image.idntimes.com/post/20260930/screenshot-2026-09-30-092707_215673c4-7386-434b-bc16-daf18e863f54.png)