Tangannya gemetar seperti lilin menolak padam
Menjaga sisa hangat dari kehidupan yang dirampas
Matanya adalah sumur sunyi,
Menyimpan gema tawa yang telah lama mati
Peluru-peluru melesat seperti burung besi tersesat,
Mengoyak udara dengan jeritan tajam
Ia meringkuk, di bawah temaram
Ia hanya rumput kering di padang kekuasaan
Dipijak sepatu-sepatu ambisi tanpa permisi
Layaknya butir debu di jalan kemenangan,
Terbang, jatuh, dan dilupakan.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Langit Gemuruh
![[PUISI] Langit Gemuruh](https://image.idntimes.com/post/20260307/1000456552_31daea4a-078f-48f0-8492-d0c62f89cbc9.jpg)
ilustrasi pemandangan langit (pexels.com/Jose David Cortes)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us