Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Langit Gemuruh
ilustrasi pemandangan langit (pexels.com/Jose David Cortes)

Tangannya gemetar seperti lilin menolak padam
Menjaga sisa hangat dari kehidupan yang dirampas
Matanya adalah sumur sunyi,
Menyimpan gema tawa yang telah lama mati

Peluru-peluru melesat seperti burung besi tersesat,
Mengoyak udara dengan jeritan tajam
Ia meringkuk, di bawah temaram
Ia hanya rumput kering di padang kekuasaan

Dipijak sepatu-sepatu ambisi tanpa permisi
Layaknya butir debu di jalan kemenangan,
Terbang, jatuh, dan dilupakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎