Jingga sore berbisik lirih di tepi senja,
Matahari merunduk seperti doa yang kelelahan
Angin menenun rindu pada dahan-dahan waktu,
Sementara langit mengulum rahasia yang nyaris jatuh
Bayang-bayang berjalan tanpa kaki,
Menyusuri aspal ingatan yang retak,
Memungut cahaya dengan telapak harap,
Namun, hangatnya menguap jadi abu sabar
Awan menjahit luka dengan benang temaram,
Menutup robeknya hari yang tak sempat pulang,
Detik berdetak seperti palu nasib,
Memaku sunyi pada dada yang terlalu luas
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Lirih Jingga

ilustrasi senja (pexels.com/Keith Lobo)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us