Senja menggantung di bahu langit
seperti lampu tua
yang lupa cara padam.
Hari berjalan pulang
dengan langkah patah
meninggalkan jejak cahaya
di genangan waktu.
Di dalam dada
ada taman sunyi
yang diam-diam menumbuhkan bunga
dari tanah luka.
Angin datang
membaca rahasia daun,
sementara bayangan
menjahit malam dengan benang gelap.
Aku belajar dari hujan
bahwa jatuh berkali-kali
tidak selalu berarti kalah,
kadang itu hanya cara langit
menyentuh bumi.
Dan hidup
barangkali hanya musim panjang
saat manusia
terus mekar perlahan
dari retakan dirinya sendiri.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Luka yang Berbunga
![[PUISI] Luka yang Berbunga](https://image.idntimes.com/post/20260316/pexels-sam-lg-1666529_7039fba4-c977-4694-b26a-ff74439417bf.jpg)
ilustrasi bunga merah (pexels.com/Sameera Madusanka)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editor’s Picks
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us