Membalik lembar lalu-lalang pelik duka
Mengabur dalam tiap dersik angin yang menyapa
Sebuah bisikan mengalun lirih dari palung kepala
Ia bergema pelan: “Selamat Ulang Tahun.”
Lilin lima belasku tak pernah berpijar
Ia diam, tak bersuara, tenggelam dalam abai yang menjalar
Tak ada nyala, tak ada doa yang sengaja dikekalkan
Aku merayakan hari lahirku dalam sunyi yang kusembunyikan
Lilin enam belasku pun tak kunjung dinyalakan
Jangankan menyulut api, meliriknya pun aku enggan
Sebab hari-hari itu hanya berisi perih yang menderu
Hari-hari terakhirmu, terkunci rapat di angka enam belasku
Lilin tujuh belasku meluruh
Bergelung pada sukma yang asing dengan kasih yang utuh
Seandainya api itu berhasil menemui sumbunya
Akan kugaungkan sebait persembahan paling rahasia
Bahwa pada enam belasku, aku hanya menemui jelaga
Jenis gelap yang tak pernah kukenal rupa dan batasnya
Bahwa pada tujuh belasku, aku hanya menuai ratap tak berujung
Ratapan yang menghantui kepala, seperti kabut yang mengepung
Lalu, perlahan lilin delapan belasku menyala
Berkobar dengan sumbu benderang yang membelah buta
Namun, separuh jiwaku tertinggal, meleleh bersama sisa lilin lama
Saat kalimat itu kembali terulang ia membawa luka yang sama
“Selamat ulang tahun, serta mulia.”
Begitu manis, namun mengiris dalam tiap-tiap katanya
Sebuah ucapan hangat yang kini tak lagi kutahu
Bagaimana cara menghidupkan baranya di dalam hatiku yang beku
![[PUISI] Menghitung Tahun Tanpa Penutur](https://image.idntimes.com/post/20260421/pexels-shahbaz-ansari-283673909-13063258_72bc4e41-ff5b-4a0c-9287-45a02a6e48af.jpg)