Kepala ini gaduh sekali
Penuh teriakan yang sulit dikeluarkan
Perang di balik dahi tak pernah berhenti
Mencabik sisa tenang yang kugapai
Dinding kamar jadi saksi sesaknya bertahan
Menelan pahit kenyataan yang terus menekan
Aku memeluk luka yang durinya menusuk kulit
Tetap tegak meski hidup terlalu banyak menuntut
Setiap napas adalah perjuangan agar tak pecah
Mengikat erat sisa kewarasan yang hampir musnah
Tak ada pahlawan, hanya aku dan rasa sakit yang menyatu
Bertahan dari hancur meski dunia telah menjadi abu
