Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
[PUISI] Musim yang Tertinggal di Dada
ilustrasi senja berawan (pexels.com/Pixabay)

Senja menumpahkan tembaga
di bahu-bahu awan yang lelah,
sementara Matahari pulang
dengan langkah patah di ufuk barat.

Angin menganyam bisik
di rambut ilalang,
seolah Bumi sedang menulis surat
kepada langit yang terlalu jauh.

Aku berjalan di antara bayang-bayang,
di mana waktu menua perlahan
seperti buku yang lupa ditutup.

Daun-daun gugur
bukan sekadar jatuh
mereka adalah pesan rahasia
dari musim yang belajar melepaskan.

Langit meminum warna ungu
dari cawan malam,
dan bintang-bintang
menyulut lilin kecil di kegelapan.

Di dadaku
ada musim yang tertinggal,
menggantung seperti embun
di ujung rumput subuh.

Ia tidak pergi,
hanya berubah menjadi kenangan
sebuah taman sunyi
yang terus berbunga
dalam ingatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎