masa lalu berputar di ruang hidupku,
seperti puting beliung yang mustahil reda.
1001 keramah tamahan,
menjadi debu yang beterbangan,
meninggalkan aku,
sendirian,
kosong di tengah badai.
kini, angin membawa serpih nama-nama lama,
menempel di rongga dada—terbelah pelan.
aku belajar diam pada setiap hembus,
mengumpulkan apa yang tercecer
seperti garam di tepi karang yang haus.
waktu tak lagi menawarkan ampun,
hanya daun kering terjatuh tanpa suara.
aku berdiri di sini,
tubuh ini pelabuhan yang lupa kapalnya,
menanti ombak yang tak pernah benar-benar pulang.
mungkin esok debu-debu itu akan menetap,
menjadi tanah baru di bawah telapak kaki.
aku tak lagi mengejar puting beliung,
hanya membiarkan badai lelah sendiri,
lalu belajar bernapas di ruang kosong ini.
![[PUISI] Putar Belit Puting Beliung](https://image.idntimes.com/post/20260217/viktor-talashuk-obdbhza8byq-unsplash_a80c2919-ed2e-4dc0-afa6-e161a9c5300d.jpg)