Ada yang lebih riuh dari suara kota di jam sibuk,
yakni sunyi yang tertinggal di antara rak-rak buku dan sudut tembok.
Mengenangmu adalah perihal memunguti serpihan yang tak lagi utuh,
saat sadar bahwa kursi di seberang meja kini tak lagi berpenuh.
Kehilangan bukan hanya tentang raga yang tak lagi bersua,
tapi tentang membiasakan diri tanpa "kita" dalam setiap rencana.
Menghapus pesan-pesan lama yang kini hanya menjadi sejarah,
sambil meyakinkan hati bahwa melepaskan adalah cara untuk tidak menyerah.
Kini, biarkan kenangan itu menetap sebagai ruang yang tenang,
bukan lagi beban yang menghalangi langkah untuk kembali pulang.
Sebab meski separuh duniaku terbawa pergi bersamamu,
hidup harus tetap menemukan warnanya di luar bayang-bayang masa lalu.
![[PUISI] Ruang yang Kini Menjadi Sunyi](https://image.idntimes.com/post/20260409/pexels-sheep-556180-1846410_5fb8b49f-7e2c-470d-bb44-3ccfef512174.jpg)