Katanya perut tanah itu emas
Tersemai di bawah surga langit membiru
Yang diinjak sepatu-sepatu warisan
Nyaris tak menyisakan ruang
Mereka bilang serpihan surga yang subur
Benarkah?
Mengapa kami masih mengunyah batu?
Tertikam tajam pisau permata
Gagangnya diukir oleh ironi
Menjahit dahaga dengan muram
Kering kerontang persis musim kemarau
Sang rapuh bersuara parau