sungguh aku tak tahu
bila kamu masih memujiku
dalam nyeri sekujur tubuh Bulan
yang pincang juga benderang

kupikir semua kenang telah menghilang
bersisa tulang belulang
sebelum membaur dengan tanah
yang mengaromakan kematian

dan rindu hanyalah abjad
dalam pekat kopi yang menjelma puisi
atau kesiur angin
yang diembuskan dari nestapa tempo dulu

tapi bulan nyatanya
masih mengigaukanmu, Sayang
sesekali, ia meracaukan tentangmu
hingga menjelang subuh
tak peduli jika tubuhnya telah basah oleh peluh

jika kau bertanya apakah aku merindu
bagiku pertanyaanmu hanyalah retorika
atau semata-mata hanyalah keraguanmu

sebab rindu itu nyata,
membabi buta
tak pernah ada jeda
tak tahu kapan usainya