Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[PUISI] Rumah Bernama Ibu
ilustrasi rumah ibu (pexels.com/Alex Green)

Dulu aku mengira rumah
adalah dinding yang melindungi dari hujan,
jendela yang menyimpan cahaya pagi,
dan pintu yang selalu terbuka
ketika kaki kecilku pulang
dengan lutut penuh luka.

Ternyata rumah adalah seseorang
yang hafal suara langkahku,
bahkan ketika aku pulang terlalu malam.
Seseorang yang tahu dari diamku
bahwa hari sedang tidak baik-baik saja,
meski aku berkata, “Aku baik, Bu.”

Waktu membuatku pandai pergi.
Kota-kota mengajariku jalan,
kereta mengajarkanku perpisahan,
dan jarak perlahan menjadi
sesuatu yang harus kuterima.
Namun setiap jauh selalu punya jalan pulang kepadamu.

Kini rambutmu menyimpan lebih banyak putih,
sementara aku semakin sering menghitung waktu.
Dulu aku takut tidur tanpa lampu,
sekarang aku takut suatu hari
pulang dan tak lagi menemukan
suaramu memanggil namaku dari dalam rumah.

Barangkali kehilangan bukan tentang pergi,
melainkan tentang menyadari
betapa mahal hal-hal yang dahulu sederhana:
secangkir teh di meja,
doa yang lirih sebelum tidur,
dan pertanyaan kecil, “Sudah makan?”

Ibu, jika kelak langkahku semakin jauh,
jangan kira aku sedang melupakan jalan pulang.
Sebab ke mana pun dunia membawaku,
aku tetap tahu satu hal:
rumah bukan tempat yang kutinggalkan,
melainkan namamu
yang selalu kutemukan ketika ingin kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team