Sunyi datang tanpa diundang
Ia duduk di dada seperti beban
Hari terasa terlalu sempit
Untuk harapan yang masih ingin bernapas
Aku berdiri di sendiri di tepian
Di bawah kaki ragu menunggu
Tak ada tanda ke mana melangkah
Hanya degup yang terdengar kencang
Harapan menjadi kata yang berat
Hari ini meminta lebih dari doa
Perut mengerti lebih cepat
Bahwa keyakinan tak selalu cukup
Aku sudah berjalan sejauh ini
Dengan lutut gemetar dan mata terbuka
Meski sunyi terus mendesak
Aku masih menahan diri dari jatuh
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Sunyi yang Mendesak
![[PUISI] Sunyi yang Mendesak](https://image.idntimes.com/post/20240521/pexels-cottonbro-6284266-f96a2f31398211c36c1d614d2c908814-d786b23c5a8e28bde0fa8a07426e2f89.jpg)
ilustrasi perempuan yang menangis (pexels.com/cottonbro studio)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Editorial Team
EditorYudha
Follow Us