Aku adalah tanah yang bersuara
Aku mengingat nama-nama yang hilang
Terukir di setiap runtuhan dinding
Terhembus dalam debu yang menempel di angin

Aku dipaksa melepaskan anak-anakku
Untuk diusir ke pangkuan asing
Seolah luka bisa dipindahkan
Seolah darah bisa ditukar dengan sepetak tanah

Aku menyaksikan ironi getir
Mereka yang lahir dariku diusir jauh
Sementara tamu asing menancapkan tiang
Seolah akulah milik mereka

Aku tetap disini
Menyimpan jejak kaki yang berani melawan
Menjaga doa yang menyala di puing-puing
Aku akan tetap berdiri, hingga yang merampas
Terhapus oleh langkah mereka sendiri