Aku merebahkan diri tanpa suara
Dalam sebuah kamar kecil yang bercahayakan senja
Aku tau jika yang kupunya sudah remuk berkeping-keping
Tak ada nama, serta tak ada pula cara bertahan
Sesekali aku masih ingin mencoba meraihnya setengah mati
Menyusuri banyak cela, membuat muka jam dinding tak terlihat bergerak
Kumohon hiduplah dengan baik, bisiknya
Mengapa ia tak kunjung menyadari jika sesuatu yang berkali-kali diseka nampak kembali lagi
Membuat kekeruhan ini pada hakikatnya terasa abadi
Resah merajai diri, seolah tak ada ujungnya
Kiranya kehidupan yang lain memang tak pernah ada
Dan maka sejak saat itu, mulutku seolah merenteng kata selamat tinggal
![[PUISI] Tentang Apa yang Pandai Berkhianat](https://image.idntimes.com/post/20260217/apakah-bau-vagina-bisa-menyebar-seruangan-lingkungan_f266acd8-b53f-472a-9bf0-35267710a2cd.jpeg)