Pena ini telah melukis sungai
Di atas kanvas yang seharusnya gunung
Tinta hitam membeku menjadi jalan buntu
Memaksa kaki untuk terus mengarungi jurang
Aku meminta maaf pada bintang
Karena telah menyebutnya kerikil malam
Pada laut, karena kusangka ia hanya kolam
Pada hatimu, karena kuduga ia dangkal
Tapi kata-kata bagai anak panah
Sekali melesat, tak kenal kata kembali
Luka di daging bisa mengering jadi tanda
Luka di jiwa menganga bagai pintu yang tak terkunci
Maka biarlah salahku menjadi nisan
Penanda di persimpangan ingatanmu
Agar kau tak lagi sesat ke jalan yang sama
Menemui sumur yang sama keringnya
