Rona itu bercorak menghias parasmu
Tatapan hangat membias tenang
Semakin kupandang bening matamu
Jiwaku hanyut mengurai di setiap gerakmu
Aku menyayangimu,
dengan hati yang tak lagi sempurna.
Berusaha memeluk dari balik wajah lugumu
Terselip cerita panjang mengalun seperti lonceng tua
Semesta punya cara sendiri untuk bahagia
Tetapi semesta juga punya cara untuk tak lagi menggenggam
Bukan karena lelah,
tetapi saling bertumbuh.
Aku melangkah pelan di peron stasiun,
membayangkan kisah kita seperti dua rel yang tak pernah bertaut,
tetapi selalu bersama.
Menempuh jarak dengan waktu yang terkikis.
Tak apa,
bila suatu saat ada persimpangan,
memisahkan langkah kita.
Sebab mencintai tak harus memiliki
dan menyayangi berarti merelakan.
Jika suatu hari kita berhenti berdampingan,
Ingatlah—ada aku yang pernah mencintaimu,
dengan cara paling tenang yang bisa dilakukan manusia.
Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
[PUISI] Untuk Kita yang Bertumbuh
![[PUISI] Untuk Kita yang Bertumbuh](https://image.idntimes.com/post/20251026/desain-tanpa-judul-11_38de62f3-1413-4552-943c-0901f2669e1f.png)
Foto orang yang berdiri di rel kereta (pexels.com/Guilherme Rossi)
This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Curated For You
- [PUISI] Kaldera dari Utara23 Okt 2025, 05:04 WIB
- [PUISI] Aroma dari Bayanganmu25 Okt 2025, 05:04 WIB
Editorial Team
EditorYudha
Related Article
[PUISI] Stasiun yang Selalu Ditinggalkan25 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Menang atas Rasa Takutku25 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Jejak Kaki di Pesisir Pantai24 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Rekayasa Bahagia24 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Gelas Kosong yang Terjeda24 Agu 2026, 15:07 WIB
[PUISI] Sela Adab24 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Di Antara Luka dan Kemungkinan24 Agu 2026, 05:04 WIB
[PUISI] Perahu Tanpa Pelabuhan23 Agu 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Ketika Tawa Tumbuh Tanpa Alasan23 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Nisan Kecil22 Agu 2026, 21:17 WIB
[PUISI] Desah Rumput Kering22 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Liturgi22 Agu 2026, 07:07 WIB
[PUISI] Hari Hujan Terakhir22 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Ingatan yang Memilihmu21 Agu 2026, 20:48 WIB
[PUISI] Detik Warna21 Agu 2026, 16:47 WIB
[PUISI] Sekuntum Rindu Pertama21 Agu 2026, 05:25 WIB
[PUISI] Hari yang Ikut Pulang20 Agu 2026, 21:07 WIB
[PUISI] Musim yang Telah Berlalu20 Agu 2026, 20:27 WIB
[PUISI] Kursi Kosong di Baris Terakhir20 Agu 2026, 17:07 WIB
[PUISI] Maaf untuk Luka yang Bukan Salahmu20 Agu 2026, 05:25 WIB